Murabbiku pahlawanku

Murabbiku pahlawanku
Ia mendidik ku tanpa mengharap balas jasa

Hal ini mengingatkan ku
pada Murabbi pertama
Terima kasih atas peranmu yang mengantarkan ku ke pintu Hidayah
Sungguh terharu jika aku selalu mengingatmu

Selamat Hari Pahlawan.
Salam hangat untuk semua Murabbi & Murabbiyah di Seluruh Indonesia.

 

Padang, 10 November 2013

Advertisements

Pemerintahan Kudeta dan Militer Mesir Mulai Phobia Angka 4

Di Mesir siapapun yang menggunakan simbol 4 jari akan di tangkap dan dipersalahkan dengan tuduhan yang akan dibuat kemudian hari.

Jangankan menggunakan simbol 4 jari, yang ngomong2 dan nulis angka 4 saja membuat Pemerintahan Kudeta marah dan jijik.

AlJazeera yang melaporkan hasil pertandingan sepak bola Al-Ahly memenangkan pertandingan dengan score 4 – 2. lansung dituduh mengarang cerita. Pemerintahan Kudeta Mesir benar2 benci sekali dengan angka 4.

Dengan pobhia akut pemerintahan Kudeta Mesir ini, tampaknya angkat 4 akan dihapus dari Mesir, sehingga kemudian hari urutan angkat di Mesir seperti ini.. 1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10….. masyarakat tidak boleh lagi berhitung dengan menggunakan angka 4.

Tapi bagi masyarakat Mesir ini bs menjadi senjata ampuh untuk membuat pemerintahan kudeta stress dengan menggencarkan publikasi angka 4 diseantro Mesir, hingga As Sisi dan antek2 kudetanya menjadi gila. hehehe…

Simbol perjungan dan Solidaritas rakyat Mesir, Untuk mengenang Pembantaian di Ravi'ah Adawiyah

Simbol perjungan dan Solidaritas rakyat Mesir, Untuk mengenang Pembantaian di Rabi’ah Adawiyah

Hadirilah Tabligh Akbar dan Penggalangan Dana untuk Mesir

Insya Allah, UKM FSI Nurul Jannah Universitas Bung Hatta mengadakan TABLIGH AKBAR & PENGGALANGAN DANA Untuk Mesir:

Jum’at, 13 September 2013

Tempat: Mesjid Nurjannah Kampus 1 Universitas Bung Hatta

Pembicara: Ust. Heri Efendi, Lc (Komnas untuk Kemanusiaan dan Demokrasi Mesir)

Tablig Akbar Peduli Mesir fiks 3

 

Ini Tentang Mesir

Kabarnya banyak yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Mesir,

Tentang pembantaian jama’ah Sholat subuh yang menewaskan lebih dr 200 orang

Tentang pembantaian di Rabiah Adhawiyah, Nadhah dan provinsi lainnya yang menewaskan sampai 6000 orang

Tentang pembakaran mesjid Rabiah Adhawiyah yang juga menghanguskan jamaah yang terjebak di dalamnya

Tentang pembakaran rumah sakit lapangan Medan Rabiah Adhawiyah yang turut membakar korban-korban yang ada di dalamnya

Tentang para demonstran yang kepalanya putus dan tubuh-tubuhnya patah karena aparat

Tentang demonstran yang digilas secara sengaja oleh aparat

Tentang silumpuh yang dianiaya aparat

Tentang penembakan gas beracun ke Mesjid Alfatih

Tentang wanita dan anak-anak yang tak luput dari kebiadaban aparat

dan tentang perbuatan-perbuatan keji lainya sudah diluar batas kemanusiaan

Maka haruskah kita diam?

Ketidak tahuan itu mungkin yang membuat kita begitu enggan menanggapi tragedi kemanusiaan di Mesir walau hanya sekedar berucap simpati atau memang mungkin sesungguhnya kita yang tak lagi punya hati

Selamatkan Mesir dengan mencari Informasi yang benar tentang tragedi kemanusiaan Mesir lalu mempublikasikannya kepada dunia.

‪#‎SaveEgypt‬

Padang, 19 Agustus 2013

Bagi teman-teman yang mau lihat beberapa foto pembantaian di Mesir, bisa buka foto kronologis saya di facebook: Doni As-Siraj

BSBdoTFCcAAo7Oi

Memberantas “Teroris” Apa Maksudnya?

Foto: Mesjid dan Rumah Sakit Rabi'ah Adawiyah yang dibakar Aparat Mesir

Membongkar Propaganda Licik Rezim Kudeta Mesir

Saya teringat pelajaran Dr. Sa’dudin Hilaly di Lembaga Fatwa Mesir tentang fikih kontemporer dengan tema Bursa Efek. Beliau mengatakan, “Tidak ada satupun definisi yang jelas tentang bursa efek. Kenapa demikian? Kalau didefinisikan dengan jelas, maka hukum syar’i-nya pun jadi jelas (tidak abu-abu) dan bursa efek akan bubar karena orang akan mengetahui belangnya”. Ini sama dengan kata teroris. Ia adalah hantu yang tidak pernah didefinisikan Amerika dan dunia internasional dengan jelas. Kalau didefinisikan dengan gamblang maka ia akan menghantui kepentingan mereka dan segala kegiatan yang bernama terorisme akan tertuju pada hidung mereka sendiri .
Jangan heran jika ada penjahat yang membantai sejuta orang dan memperoleh restu dari pemilik istilah, tiba-tiba ia tidak disebut sebagai teroris. Kebrutalannya hanya disebut sebagai pembelaan diri dan endingnya bahkan dialah yang disebut pahlawan. Coba saja tonton film perang Amerika vs Vietnam.

“Memberantas Teroris”. Inilah isu yang sedang digadang-gadang oleh media Mesir ke luar sekarang ini. Bahkan Penasehat politik presiden “kudeta” sementara Mesir, Musthafa Hijazy pun dengan terang-terangan menyatakan bahwa apa yang terjadi di Mesir adalah perang yang disulut oleh kaum extrimis dan teroris.
Tuduhan ini tentu harus dilandasi bukti kongkrit di lapangan.

Setelah mereka (media dan pemerintah kudeta) gagal meyakinkan dunia bahwa Ikhwan adalah dalang pembantaian di halaman depan monumen Anwar Sadat dan Rabea Adawea Square, akhirnya mereka merancang bukti lain yang dianggapnya logis, diantaranya adalah:

1- Pembakaran gereja koptik di Al Menia
2- Pembakaran kantor polisi cabang al-Warraq
3- Pembakaran kantor pusat polisi di Provinsi Giza
4- Menempatkan sniper di atas menara Masjid Al-Fath, Ramsis Sq.
5- Pembakaran Kantor Al-Muqawilun Arab (Arab Kontraktor)

Pembakaran dilakukan tatkala para demosntran tengah melewati gedung tersebut, sehingga mudah untuk menuduhkan semua pelaku kriminal kepada IM.
Ternyata, mereka dipermalukan di hadapan rakyatnya sendiri dengan skenario kuno ini, karena hal serupa pernah dilakukan pada tahun 2011 saat revolusi dan menjadi rahasia umum bahwa pelakunya adalah aparat.

Gereja Mar Girgis di Al Menia misalnya, Uskup Ayub Yusuf penanggung jawab gereja Mar Girgis Al Menya memastikan bahwa yang menyerang gerejanya adalah para preman dan bukan demonstran. Diantara bukti kuat dugaan ini adalah bahwa tak satupun polisi yang bersedia datang ke TKP tatkala ditelepon untuk menyelamatkan bangunan.

Begitupun dengan pembakaran kantor polisi cab. Al-Warraq. Aiman Nur, ketua Partai Masa Depan Baru (haluan sekuler) tatkala menyaksikan siaran televisi yang meliput kejadian, dengan berani mengatakan, “Saya yakin bahwa pelakunya adalah aparat dan saya bisa menyebutkan kepada anda siapa-siapa pelakunya. Sebagaimana ditayangkan pada tv Mesir, sudah saya ceritakan di status sebelumnya “Kemarahan yang terorganisisr”.
Mengenai kantor pusat polisi di Provinsi Giza, masyarakat yang menjadi saksi mata menyebutkan bahwa kantor dibakar sebelum demonstran datang.

Adapun kantor Al-Muqawilun Al-Arab (Arab Kontrakor), direkturnya sendiri mengakui bahwa yang membakar adalah helikopter aparat, karena kebakaran ada di lantai atas sedangkan demonstran berada di bawah gedung, sampai akhirnya ia dipecat.

Adapun sniper yang ramai disiarkan di berbagai televisi Mesir bahwa ia adalah orang Ikhwan yang menembaki para polisi dari atas menara, imam Masjid Al-Fath dengan berani mementahkan bukti tersebut. Ia menyatakan bahwa menara masjid ada di bawah penguasaan militer dan pintu masuknya pun bukan dari dalam masjid tapi dari luar. Sementara bagian luar masjid sudah dikuasai aparat. Kalau benar pelakunya orang IM, seharusnya mereka (polisi) telah naik ke atas menara dan menangkap pelaku tersebut, lalu memberitahukan kepada masyarakat identitas pelaku, senapan dan peluru yang digunakan. Tapi itu tidak dilakukan karena sama artinya dengan membuka kedok sendiri. Imam Masjid pun di tangkap aparat.

Saya kira isu seperti ini akan terus digulirkan. Kita sebagai penonton di negeri ini jangan sampai dikibuli atau terkecoh dengan berita yang “la yajlis” alias “nggak jelas.”

Mudah-mudahan lisan kita terjaga dari latah atas istilah yang sangat sangat merugikan umat Islam, memojokkan dan merendahkan ini. Kita kalungkan saja istilah itu kepada pemiliknya, jangan sampai umat Islam yang memakainya atau kita yang memakaikannya kepada umat. Wallahu ‘alam

 *Dari berbagai sumber

Jamaluddin Junaedi
Redaktur: Harun AR

Dikutip dari: http://www.sinaimesir.net/2013/08/memberantas-teroris.html