Hati dan Lidah

Luqman al-Hakim adalah seorang budak dari Habasyah. Suatu hari ia diperintahkan oleh tuannya untuk menyemblih seekor kambing, tuannya berkata: “Bawakan kepadaku dua bagian tubuh dari kambing ini yang paling bagus.”

Mendapat perintah demikian dari tuannya, setelah kambing selesai disembelih, Luqman al-Hakim membawakan kepada tuannya bagian hati dan lidah dari kambing yang disembelihnya.

Pada hari berikutnya, Luqman al-Hakim diperintahkan oleh tuannya untuk menyembelih seekor kambing lagi, tuannya berkata; “Nanti bawakan kepadaku dua bagian tubuh dari kambing yang paling jelek.”

Mendengar perintah dari tuannya tersebut, setelah kambing selesai di sembelih, Luqman al-Hakim membawakan kepada tuannya bagian hati dan lidah dari kambing yang disembelihnya. Melihat apa yang dibawakan oleh Luman al-Hakim, tuannya berkata; “Kemarin ketika aku menyuruhmu untuk menyembelih seekor kambing dan membawa kepadaku dua bagian tubuh dari kambing yang paling bagus, engkau membawakan kepadaku hati dan lidah kambing, sekarang ketika aku menyuruhmu lagi untuk menyembelih seekor kambing lagi dan menyuruhmu membawakan kepadaku dua bagian tubuh dari kambing yang paling buruk, enkau juga membawakan hati dan lidah kambing, sebenarnya apa maksud dari ini semua wahai Luqman?”

Mendapat pertanyaan demikian dari tuannya, Luqman al-Hakim menjawab; “Tidak ada yang lebih baik dari hati dan lidah jika keduanya adalah baik, dan tidak ada pula yang lebih buruk dari hati dan lidah jika memang keduanya buruk.”

“Sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka akan baik seluruh tubuh, tetapi apabila segumpal darah itu buruk, maka akan buruk juga seluruh tubuh, ingatlah, segumpal darah tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

– Dikutip dari buku L5H SSBDS

Surat Cinta Ulama Untuk Partai An-Nour

Partai An Nur

Surat dibawah ini terkait dukungan Partai An Nour “Salafy” terhadap kudeta & pengkhianatan kepada Presiden Mursi, maka membuat salah satu Ulamanya memberikan teguran keras melalui surat untuk para pemimpin Partai An-Nour. berikut isi suratnya:
———

Surat untuk Dr. Yasir Barhami dan partainya (Annour)
Dari Syeikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq Alyusuf

Kalian telah mengkhianati amanat melanggar janji dan memimpin/ mengambil bagian besar dalam penurunan Presiden yg telah kalian baiat, dan diridhoi oleh mayoritas umat Mesir, Kalian mendukung musuh2 umat, dan menyobek undang2 yang kamu adalah salah seorang penulisnya dan disetujui jumhur/ kebanyakam umat Mesir.

Aku tidak melihat permisalan antara kalian dan presiden yg kalian khianati dan kalian copot kecuali seperti yg terjadi antara Utsman bin Affan RA dan orang2 yg telah memberontak kepadanya.

Utsman bin Affan adalah khalifah pertama yang dipilih dengan referendum seluruh muslimin yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf RA, sampai beliau berkata setelah menanyai pendapat semua laki2 dan perempuan di Madinah bahkan pemudi2 belia: “Aku melihat kebanyakan orang tidak ada yg berpaling dari Utsman seorangpun”.
Mursi adalah presiden terpilih pertama dalam sejarah Mesir dan sudah dibaiat oleh kebanyakan penduduk mesir dengan hati dan tangan mereka.. kalian dan partai kalian juga termasuk dari mereka.

Utsman RA adalah seorang Hafidz Quran, ahli puasa,ahli qiyam, dan kami mengira Mursi juga seperti itu.
Utsman.. para pemberontak menyuruhnya menyerah dan turun tetapi dia menolak dan menunggu kematian, dan dia telah bermimpi ketika sedang dikepung Rasulullah berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah telah memakaikanmu baju, maka bila mereka ingin kamu melepaskannya jangan turuti mereka”.

Begitu juga Mursi, para pemberontak ingin dia turun sukarela dan melepaskan baju kepresidenan yg telah dipakaikan oleh rakyat Mesir, tetapi dia menolak permintaan para pemberontak.

Dan memang tidak sepatutnya dia turun sukarela karena bila dia melalukan hal itu tanpa merujuk kepada orang2 yang telah membaiatinya maka dia telah mengkhianati mereka.

Sedang kalian.. tidak ada permisalan bagi kalian dalam sejarah kecuali dengan para pemberontak khawarij yg telah memberontak kepada Utsman RA tanpa menghiraukan perjanjian mereka dan kehormatan Utsman, dan mengikuti perintah Ibnu Saba.

Dan ketahuilah bahwa darah yg akan tertumpah dan kehormatan/ larangan yg akan dilangar disebabkan pelanggaran janji kalian dan pengkhianatan amanat kalian, akan menjadi tanggung jawab kalian, karena kaluan yg memimpin/ mengambil peran besar dalam hal ini, dan kalian telah berusaha untuk hal itu dengan terang2an atau sembunyi2.

Bila engkau berbangga bahwa engkau telah membuat roadmap (mesir), ketahuilah bahwa para pencuri kekuasaan yang telah menelikung keinginan rakyat tidak akan mungkin menjadi orang2 yang adil dan saksi bagi Allah meskipun atas diri mereka sendiri.

Dan kalian telah melakukan hal itu, supaya orang2 melepaskan baju Salafi (dr pandangan mereka) yang telah lama kalian pakai tanpa hak dan dgn kebohongan. Dan menjadikan kalian golongan orang2 yang membangkang kepada penguasan tanpa hak.

Dan ketahuilah bahwa kamu tidak akan menjadi pengganti Mursi meskipun mereka telah mengiming imingimu hal itu karena sesungguhnya Allah tidak merestui tipu daya orang orang yg berkhianat.

Ditulis oleh: Abdurrahman Abdul Khaliq Alyusuf (Beliau adalah ulama yg sangat dihormati salafy -red)
26 Syaban 1434
4 Juli 2013

Sumber: fb Burhanizain Fitra

Bagi Yang Masih Bingung Dengan Nisfu Sya’ban

Karena masih bingung dengan Nifsu Sya’ban, maka ana bertanya ke Ustadz Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Pertanyaan 1:

Doni: “Assalamu’alaikum.. afwan Ustadz, ana mau bertanya, bagaimana dengan keshahihan hadits2 mengenai nifsu sya’ban, apakah sahih, dan apakah kita memang dianjurkan mengkhususkan beribadah pada hari itu? mhon jawabannya ustadz, karena byk yg bertanya kpd ana, namun ana tidak bs menjawabnya karena gak paham soal itu.

Ustadz Irsyad: “Tidak ada dalil yg shahih ttg ibadah2 khusus di malam dan siang nisfu sya’ban. Tidak shalat dan tdk juga puasa.

Yang shahih ada: hadits Allah mengampuni semua dosa hambaNya dimalam tsb, kecuali yg musyrik dan orang yg masih bermusuhan..

Klu ttg ibadah2 itu banyak yg palsu dan dhaif.”

Pertanyaan 2:

Doni: “syukron ustadz, atas jawabannya. kalau hadist mengenai diangkatnya semua amalan di malam nifsu sya’ban itu gmn ustadz? apakah shahih?”

Ustadz Irsyad: “Haditsnya yg shahih diangkat nya amalan pada bln sya’ban. Bkn nisfu sya’ban.”

——-

Semoga tidak ada lagi yang keliru mengenai nifsu sya’ban.

sekian.. semoga bermanfaat. ๐Ÿ˜€

nb: maaf ya tulisan “Nifsu” di atas salah ketik, yang benar “Nisfu”, tidak diganti karena untuk menjaga keotentikan.

Tadzkiroh: “Menghindari Hal-hal Yang Menimbulkan Fitnah”

Menyikapi musibah dan ibtila akhir-akhir ini, maka Dewan Syariah Pusat mengingatkan (memberikan tadzkiroh) kepada seluruh pimpinan, pejabat publik dan seluruh kader, untuk senantiasa menjaga iffah (kehormatan diri) dan menghindarkan diri dari hal-hal yang menimbulkan fitnah. Allah Taโ€™ala berfirman:
ูŽู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ู…ูู†ู’ ู…ูุตููŠุจุฉูŽ ููŽุจูู…ูŽุง ูƒุณูŽุจุชูŽ ุฃูŽูŠู’ุฏู ูŠูƒู… ูˆูŽูŠูŽุนู’ูููˆ ุนูŽู†ู’ ูƒุซูŠูุฑ
โ€Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)โ€ (QS As-Syuraa 30).
Sesungguhnya kasih sayang Allah Taโ€™ala terhadap hamba-Nya masih jauh lebih luas, sehingga Allah memaafkan banyak sekali kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Oleh karena itu kita jangan meremehkan dosa dan kesalahan, karena bisa saja Allah menimpakan musibah dan fitnahnya kepada yang lain. Allah berfirman:
ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ููุชู†ุฉู‹ ู„ุง ุชูุตููŠุจูŽู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐูŠู†ูŽ ุธูŽู„ูŽู…ููˆุง ู…ูู†ูƒู… ุฎุงุตูŽู‘ุฉู‹ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู† ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุดุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุงุจู
โ€Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah ( siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.โ€(QS al-Anfaal 25).
Fitnah tidak hanya menimpa pelaku perbuatan haram dan zhalim saja, tetapi juga menimpa orang lain. Berkata Ibnu Abbas ra. terkait dengan tafsir ayat ini, Allah memerintahkan orang beriman untuk tidak mengakui kemungkaran yang terjadi di tengah mereka, kalau mereka mengakui, maka Allah akan meratakan adzab-Nya. Rasulullah saw. bersabda
ูุฅู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ุง ูŠุนูุฐุจู ุงู„ู’ุนูŽุงู…ุฉูŽู‘ ุจูุนูŽู…ูŽู„ู ุงู„ู’ุฎูŽุงุตูŽู‘ุฉ ุŒ ุญูŽุชู‰ย  ูŠูŽุฑูˆูุง ุงู„ู’ู…ูู†ูƒุฑ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุธูŽู‡ู’ุฑุงู†ูŠู’ู‡ูู… ูˆูŽู‡ูู… ู‚ูŽุงุฏูุฑููˆู† ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃู†ย  ูŠูู†ูƒุฑูˆู‡ู ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽุฐุจูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุงู…ูŽู‘ุฉ ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุงุตูŽู‘ุฉ
โ€œSesungguhnya Allah tidak mengadzab masyarakat umum dengan amal keburukan yang dilakukan orang tertentu (khusus), sehingga ketika mereka melihat kemungkaran diantara mereka, dan mereka tidak mengingkari kemungkaran tersebut padahal mampu. Jika mereka melakukan itu, maka Allah menyiksa masyarakat umum dan khususโ€ (Al-Musnad Ahmad 4/192-
Para pimpinan partai, pejabat publik dan kader dakwah hendaknya tetap menjaga โ€žiffah (kehormatan diri) dan menjauhi hal-hal yang menimbulkan fitnah dalam bermuamalah terhadap harta, wanita, tempat kegiatan dan kedudukan. Allah Taโ€™ala berfirman:
ูˆูŽุงู„ู‘ุฐูŽ ูŠู†ูŽ ู„ูŽุงูŠูŽุดู‡ูŽุฏููˆู† ุงู„ุฒูู‘ูˆุฑูŽ ูˆูŽุฅู ุฐูŽุงู…ูŽุฑูˆุง ุจูุงู„ู„ู‘ุบูˆู ู…ูŽุฑูˆุง ูƒุฑุงู…ุง
โ€Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.โ€ (QS Al-Furqaan 72).
Dalam tafsir Ibnu Katsir 6/130 disebutkan, bahwa di antara sifat ibadurrahman adalah orang-orang yang memiliki sifat sebagaimana ayat ini. Di antara makna az-zuur adalah syirik dan menyembah berhala, yang lain berpendapat yaitu dusta, fasik, main-main dan batil. Berkata Muhammad bin Hanafiyah, maknanya adalah main-main dan nyanyian. Berkata Abul โ€™Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirin, Ad-Dhahak, Rabi bin Anas dan lainnya yaitu hari rayanya orang musyrik. Berkata Amru bin Qois yaitu majelis yang buruk dan kotor. Berkata Malik dari Az-Zuhri, yaitu minum khomr, mereka tidak menghadirinya dan tidak suka sebagaimana disebutkan dalam hadits, โ€Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka jangan duduk di tempat yang disana diedarkan minuman keras.โ€ (HR at-Tirmidzi).
Dan menurut Ibnu Katsir bahwa pendapat yang nyata dari alur ayat ini adalah tidak menghadiri az-zuur, oleh karena itu diteruskan dengan rangkaian ayat berikutnya:
ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุฑูู‘ูˆุง ุจูุงู„ู„ูŽู‘ุบู’ูˆู ู…ูŽุฑูู‘ูˆุง ูƒูุฑูŽุงู…ู‹ุง

{ jikaย  terpaksaย  harusย  lewat/hadir,ย  makaย  merekaย  lewat/hadirย  danย  tidak melakukan az-zuur tersebut. }

Dari Ibrahim bin Maisarah bahwa Ibnu Masโ€™ud melewati tempat lahwu/permainan, beliau berpaling (tidak berhenti) maka Rasulullah saw. bersabda, โ€Ibnu Masโ€Ÿud telah melalui pagi hari dan sore hari secara mulia (menjaga kehormatan)โ€ (HR Ibnu Asakir).

Supaya kita senantiasa terjaga dari fitnah, maka kita harus menjaga muru’ah (hifzhul muru’ah), waspada terhadap syubuhat (ittiqaus syubuhat) dan menjauhi hal yang haram (ijtinabul muharramat).
Rasulullah saw memberi contoh yang baik bagi kita, agar tidak terjadi fitnah, maka Rasulullah saw menjelaskan bahwa beliau sedang bersama istrinya (bukan perempuan lain).
Diriwayatkan oleh Shafiyah binti Huyay berkata, โ€Suatu hari Rasulullah saw sedang beri’tikaf, aku mengunjunginya malam hari, berbicara dan aku bangun untuk pergi. Rasulullah saw ikut bangun mengantarkanku. Sedang Shafiyah tinggal di rumah Usamah bin Zaid. Maka lewatlah dua sahabat Anshar, ketika keduanya melihat Rasulullah, maka keduanya segera pergi. Maka Rasulullah bersabda, โ€Tunggu! Ini adalah Shafiyah binti Huyay (istri Rasul saw).โ€ Keduanya berkata, โ€Subhanallah, ya Rasulullah.โ€ Rasul bertakbir dan bersabda, โ€Sesungguhnya syetan mengalir pada anak adam seperti aliran darah, dan saya takut muncul pada kedua hati kalian keburukan.โ€ (HR Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan Muslim )
Islam mengajarkan kepada kita akhlak yang mulia yaitu muruah (menjaga harga diri), supaya terhindar dari fitnah.
Para pimpinan partai, pejabat publik dan para kader dakwah juga harus berhati-hati pada harta yang syubhat dan tidak jelas, mereka harus mewaspadai harta syubhat. Sebab ketika mendekati tempat larangan, maka akan mudah jatuh pada sesuatu yang dilarang Allah.
Rasulullah saw bersabda:
ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ุนู’ู…ูŽุงู† ุจู’ู†ู ุจูŽุดูŠูุฑูŽุฑุถูŠ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู†ู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„: ุณูŽู…ูุนู’ุช ุฑูŽุณููˆู„ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู… ูŠูŽู‚ููˆู„: ุฅู† ุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงู„ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆุฅู† ุงู„ู’ุญูŽุฑุงู… ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒุŒ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ู‡ูู…ูŽุง ุฃู…ููˆุฑู…ุดุชุจูู‡ูŽุงุช ุŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู†ูŽู‘ ูƒุซูŠุฑู…ู† ุงู„ู†ุงุณุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุงุชูŽู‘ู‚ูŽู‰ ุงู„ุดุจูู‡ูŽุงุชู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุงุณู’ุชุจู’ุฑุฃ ู„ูุฏููŠู†ู‡ู ูˆูŽุนูุฑุถู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ูŽุน ูููŠ ุงู„ุดุจูู‡ูŽุงุชู ูˆูŽู‚ูŽุน ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฑุงู…ู
Dari An-Nuโ€Ÿman bin Basyir berkata, saya mendengar Rasulullah saw, bersabda, โ€Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya adalah sesuatu yang syubhat, sebagian manusia tidak mengetahuinya. Siapa yang menghindarkan diri dari syubhat, maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Siapa yang jatuh pada yang syubhat, maka jatuh pada yang haram..โ€ (Muttafaqun โ€žalaihi).
Ittiqo-us syubuhat (menghindarkan diri dari syubuhat) merupakan prinsip yang harus dipegang oleh kita. Disebutkan dalam Risalah Taโ€™lim, tentang kewajiban kader, poin 34 dan 35:
  • Hendaknya Anda menjauhi teman-teman yang buruk dan rusak, tempat-tempat maksiat dan dosa.
  • Hendaknya Anda menghindari tempat-tempat hiburan, jangan mendekatinya dan menjauhi fenomena kemewahan dan berlebihan.
Dari penjelasan tersebut, maka DSP memberikan tadzkiroh kepada pimpinan, pejabat publik dan kader dakwah, sebagai berikut:
(1) Hendaknya dalam muamalah maliyah, baik berusaha, menerima dana maupun menyalurkan dananya wajib memastikan terpenuhinya tiga prinsip; aman syar`i, aman yuridis dan aman citra (3A).
(2) Hendaknya menjaga iffah, muruah, menjauhi syubhat dan meninggalkan yang haram dalam setiap muamalah (perkataan, perbutan dan tindakan).
(3) Hendaknya menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah dan kerusakan, seperti berteman dengan teman yang buruk, memperlihatkan gaya hidup mewah, mendekati tempat hiburan dan kemaksiatan.
Demikianlah, para pemimpin, pejabat publik dan kader dakwah harus mewaspadai segala bentuk fitnah dan dosa. Dan setiap masalah yang dapat mengarah pada fitnah, dosa dan kerusakan, maka harus segera diselesaikan dan dicari akar masalahnya, jangan sampai fitnah mengarah pada yang lebih besar lagi yang pada gilirannya akan mengurangi keberkahan dan merusak dakwah, jamaah dan umat secara keseluruhan. Sorang daโ€™i berkata, โ€Aku khawatir, bencana yang menimpa kaum muslimin dikarenakan dosa-dosa yang telah kulakukan. Sebab aku tahu persis dosa-dosaku!โ€

ุงู„ู„ู‡ ูŠุญุงุณุจู†ุง ูˆู‡ูˆ ุญุณุจู†ุง ูˆู†ุนู… ุงู„ูˆูƒูŠู„

Jakarta, 29 Mei 2013M

19 Rajab 1434H

Dr. Surahman Hidayat, MA

Belajar Berkontribusi Dari Abdullah bin Ummi Maktum

Jangan sampai ketinggalan beramal dakwah wahai para ikhwah, Belajarlah dari Keseriusan Abdullah bin Ummi Maktum di bawah ini.

Dalam suatu kesempatan Anas bin Malik menceritakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara fisik buta. Tentang kesungguhannya dalam berjihad di jalan Allah demi tegaknya Risalah Islam dimuka bumi. Pada saat perang yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum turut hadir di tengah para Mujahidi di medan perang, ia menggunakan seragam perang secara lengkap dan memegang bendera. Lalu Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, โ€œbukankah Rasulullah saw telah memberikan udzur kepada mu?โ€ –ย  tahukah saudara-saudara apa yang beliau jawab?-

Beliau menjawab,

โ€œYa betul, memang dalam Al Quran telah diberikan udzur kepada orang buta. Tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.โ€

Begitulah kesungguhan Abdullah bin Ummi Maktum yang cacat secara fisik. Kebutaannya tidak membuatnya tertinggal dari medan jihad, ia lebih suka mengambil keutamaan berjihad di jalan Allah ketimbang menerima udzur.

Bagaimana dengan kita? apakah masih sering beralasan untuk melalaikan amanah dakwah karena kesibukan dunia?