Hati dan Lidah

Luqman al-Hakim adalah seorang budak dari Habasyah. Suatu hari ia diperintahkan oleh tuannya untuk menyemblih seekor kambing, tuannya berkata: “Bawakan kepadaku dua bagian tubuh dari kambing ini yang paling bagus.”

Mendapat perintah demikian dari tuannya, setelah kambing selesai disembelih, Luqman al-Hakim membawakan kepada tuannya bagian hati dan lidah dari kambing yang disembelihnya.

Pada hari berikutnya, Luqman al-Hakim diperintahkan oleh tuannya untuk menyembelih seekor kambing lagi, tuannya berkata; “Nanti bawakan kepadaku dua bagian tubuh dari kambing yang paling jelek.”

Mendengar perintah dari tuannya tersebut, setelah kambing selesai di sembelih, Luqman al-Hakim membawakan kepada tuannya bagian hati dan lidah dari kambing yang disembelihnya. Melihat apa yang dibawakan oleh Luman al-Hakim, tuannya berkata; “Kemarin ketika aku menyuruhmu untuk menyembelih seekor kambing dan membawa kepadaku dua bagian tubuh dari kambing yang paling bagus, engkau membawakan kepadaku hati dan lidah kambing, sekarang ketika aku menyuruhmu lagi untuk menyembelih seekor kambing lagi dan menyuruhmu membawakan kepadaku dua bagian tubuh dari kambing yang paling buruk, enkau juga membawakan hati dan lidah kambing, sebenarnya apa maksud dari ini semua wahai Luqman?”

Mendapat pertanyaan demikian dari tuannya, Luqman al-Hakim menjawab; “Tidak ada yang lebih baik dari hati dan lidah jika keduanya adalah baik, dan tidak ada pula yang lebih buruk dari hati dan lidah jika memang keduanya buruk.”

“Sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka akan baik seluruh tubuh, tetapi apabila segumpal darah itu buruk, maka akan buruk juga seluruh tubuh, ingatlah, segumpal darah tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

– Dikutip dari buku L5H SSBDS

Belajar Berkontribusi Dari Abdullah bin Ummi Maktum

Jangan sampai ketinggalan beramal dakwah wahai para ikhwah, Belajarlah dari Keseriusan Abdullah bin Ummi Maktum di bawah ini.

Dalam suatu kesempatan Anas bin Malik menceritakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara fisik buta. Tentang kesungguhannya dalam berjihad di jalan Allah demi tegaknya Risalah Islam dimuka bumi. Pada saat perang yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum turut hadir di tengah para Mujahidi di medan perang, ia menggunakan seragam perang secara lengkap dan memegang bendera. Lalu Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, “bukankah Rasulullah saw telah memberikan udzur kepada mu?” –  tahukah saudara-saudara apa yang beliau jawab?-

Beliau menjawab,

“Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan udzur kepada orang buta. Tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.”

Begitulah kesungguhan Abdullah bin Ummi Maktum yang cacat secara fisik. Kebutaannya tidak membuatnya tertinggal dari medan jihad, ia lebih suka mengambil keutamaan berjihad di jalan Allah ketimbang menerima udzur.

Bagaimana dengan kita? apakah masih sering beralasan untuk melalaikan amanah dakwah karena kesibukan dunia?

Hidup Untuk Menjemput Kematian

73907_518447664875025_1857435270_nKemarin malam saya mendapatkan berita dari facebook bahwa ada salah seorang Ustadz meninggal dunia, namanya Ustadz Al Jufri. Meski tidak pernah bertemu berita ini cukup mengejutkan saya, karena sebelumnya pada siang hari salah seorang senior saya bercerita mengenai seorang Ustadz yang sedang mengalami sakit, dan pada malam harinya saya mendapatkan kabar bahwa beliau telah meninggal dunia.

Lalu berita yang paling mengejutkan lagi datang tadi malam, tepatnya jam 04.30 pagi. Saya membaca sebuah berita bahwa Ustadz Jefri Al Bukhari telah meninggal dunia. Saya sedikit tidak percaya berita tersebut, saking penasaran saya buka berita-berita online lainnya, dan hasilnya sama, dan memang Ustadz Jefri Al Bukari meninggal dunia dalam umur 40 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Ya.. beginilah hidup, dan setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian kata Allah swt. di dalam surat Ali ‘Imran ayat 185.

Sebenarnya apa yang kita lakukan di atas dunia ini juga bisa disebut pertualangan menjemput kematian. Ya.. menjemput kematian, sebab semakin bertambah umur maka semakin dekat kematian kita. Tapi tidak diberitahu kapan datangnya giliran kita. Seperti yang dikatakan oleh AA Gym,

Rahasia kematian itu ada tiga: rahasia waktu, rahasia tempat, rahasia cara.  Allah merahasiakan (ketiganya itu) agar kita selalu siap setiap saat. Jangan menunda amal ibadah, jangan menundaa tobat, jangan main dengan maksiat, jangan menyia-siakan waktu kebersamaan ,kapanpun, di manapun, yang penting khusnul khotimah (akhir hidup yang diridhoi Allah SWT),”

Semoga kita selalu senantiasa dalam kebaikan.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Berangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya” (Ali ‘Imran: 185)

Sungguh Ini Tidak Pantas!

Sungguh ini tidak pantas!

disaat yang lain berjibaku berjuang membangun umat dan memperbaiki keadaan kita hanya duduk berdiam diri

Sungguh tidak pantas

ketika kita mengetahui bagaimana keadaan umat hari ini, mereka lemah dan dizhalimi, namun kita tetap berdiam diri dan memikirkan diri sendiri, seraya berkata, “aku belum sempat membantu karena sibuk”

Sungguh ini tidak pantas

Ketika kita hanya bisa mengutuk tanpa melakukan apa-apa ketika melihat saudara-saudara kita dibantai begitu saja

Sungguh ini tidak pantas

Ketika yang lain beramal di jalan Allah; berdakwah, beramar maruf nahi munkar, menyuarakan kebenaran, dan berjihad fi sabilillah. Namun kita tidak mengambil peran apa-apa padahal kita sanggup dan tak punya uzur

Sungguh ini  tidak pantas

dan memang tidak pantas

apalagi ketika seorang muslim hanya bisa mencaci tanpa mampu memberikan solusi rill terhadap problematika umat ini.

benarlah Abu Khaitsamah, saat ia terlambat menyusul Rasulullah SAW ke medan Tabuk, ia berujar,

” Rasulullah dibakar terik matahari, angin badai, dan panas yang menyengat, sementara aku, masih dibawah naungan sejuk, makanan yang tersaji, dan isteri yang cantik, menunggui hartanya, sungguh ini tidak pantas.” (Ibnu Hisham dari ibnu Ishaq sirah Vol II/520)

Mencari Spirit Yang Hilang

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah keperluan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan …

Aku rindu zaman ketika mambina adalah kewajiban
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan …

Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelangkap pengisi program yang dipaksakan …

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan …

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan,
bukan tuntutan, hujatan dan obyekan….

Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau menjatuhkan …

Aku rindu zaman ketika kita semua
memberikan segalanya untuk da’wah ini …

Aku Rindu zaman ketika nasyid ghuroba
manjadi lagu kebangsaan…

Aku rindu zaman ketika hadir liqo adalah kerinduan
dan terlambat adalah kelalaian …

Aku rindu zaman ketika malam gerimis
pergi ke puncak mengisi dauroh

dengan ongkos yang cukup2
dan peta tak jelas …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
benar-benar berjalan kaki 2 jam
di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah …

Aku rindu zaman ketika pergi liqo
selalu membawa infaq, alat tulis, buku catatan
dan qur’an terjemah ditambah sedikit hafalan …

Aku rindu zaman ketika binaan menangis
karena tak bisa hadir di liqo …

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu diketuk
untuk mendapat berita kumpul di subuh harinya …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
berangkat liqo dengan wang belanja esok hari untuk keluarganya …

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi
sakit dan harus dirawat,
para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya …

Aku rindu zaman itu …

Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami …

Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqomahan di jalan da’wah ini …
Forward dari Akh Iwan Popi Laya