TERNYATA GOLPUT Termasuk Penyumbang Kerugian Negara Tertinggi

TERNYATA GOLPUT termasuk penyumbang kerugian negara Tertinggi.

Pada pemilu, pemerintah mengeluarkan dana +- Rp. 7.600/pemilih (kertas suara). Jumlah pemilih berdasarkan data KPU 2014 adalah 186.527.553 orang. Bisa dibayangkan besarnya kerugian Negara jika yang GOPUT kembali mencapai angka 40%?

Mari kita hitung

Jumlah DPT+DPK pada tahun ini adalah: 186.527.553 orang (data KPU)
Jika angka GOLPUT sampai 40% seperti tahun 2009, artinya yang tidak menggunakan Hak suaranya mencapai 74,6 juta orang lebih.

Jika kita hitung: Rp. 74,6  juta x Rp. 7.600 = Rp. 566.960.000.000 kerugian Negara (wow fantastis 556,9 M)


Masih mau GOLPUT? silahkan anda renungi kembali

#AyoNyoblos

Memberantas “Teroris” Apa Maksudnya?

Foto: Mesjid dan Rumah Sakit Rabi'ah Adawiyah yang dibakar Aparat Mesir

Membongkar Propaganda Licik Rezim Kudeta Mesir

Saya teringat pelajaran Dr. Sa’dudin Hilaly di Lembaga Fatwa Mesir tentang fikih kontemporer dengan tema Bursa Efek. Beliau mengatakan, “Tidak ada satupun definisi yang jelas tentang bursa efek. Kenapa demikian? Kalau didefinisikan dengan jelas, maka hukum syar’i-nya pun jadi jelas (tidak abu-abu) dan bursa efek akan bubar karena orang akan mengetahui belangnya”. Ini sama dengan kata teroris. Ia adalah hantu yang tidak pernah didefinisikan Amerika dan dunia internasional dengan jelas. Kalau didefinisikan dengan gamblang maka ia akan menghantui kepentingan mereka dan segala kegiatan yang bernama terorisme akan tertuju pada hidung mereka sendiri .
Jangan heran jika ada penjahat yang membantai sejuta orang dan memperoleh restu dari pemilik istilah, tiba-tiba ia tidak disebut sebagai teroris. Kebrutalannya hanya disebut sebagai pembelaan diri dan endingnya bahkan dialah yang disebut pahlawan. Coba saja tonton film perang Amerika vs Vietnam.

“Memberantas Teroris”. Inilah isu yang sedang digadang-gadang oleh media Mesir ke luar sekarang ini. Bahkan Penasehat politik presiden “kudeta” sementara Mesir, Musthafa Hijazy pun dengan terang-terangan menyatakan bahwa apa yang terjadi di Mesir adalah perang yang disulut oleh kaum extrimis dan teroris.
Tuduhan ini tentu harus dilandasi bukti kongkrit di lapangan.

Setelah mereka (media dan pemerintah kudeta) gagal meyakinkan dunia bahwa Ikhwan adalah dalang pembantaian di halaman depan monumen Anwar Sadat dan Rabea Adawea Square, akhirnya mereka merancang bukti lain yang dianggapnya logis, diantaranya adalah:

1- Pembakaran gereja koptik di Al Menia
2- Pembakaran kantor polisi cabang al-Warraq
3- Pembakaran kantor pusat polisi di Provinsi Giza
4- Menempatkan sniper di atas menara Masjid Al-Fath, Ramsis Sq.
5- Pembakaran Kantor Al-Muqawilun Arab (Arab Kontraktor)

Pembakaran dilakukan tatkala para demosntran tengah melewati gedung tersebut, sehingga mudah untuk menuduhkan semua pelaku kriminal kepada IM.
Ternyata, mereka dipermalukan di hadapan rakyatnya sendiri dengan skenario kuno ini, karena hal serupa pernah dilakukan pada tahun 2011 saat revolusi dan menjadi rahasia umum bahwa pelakunya adalah aparat.

Gereja Mar Girgis di Al Menia misalnya, Uskup Ayub Yusuf penanggung jawab gereja Mar Girgis Al Menya memastikan bahwa yang menyerang gerejanya adalah para preman dan bukan demonstran. Diantara bukti kuat dugaan ini adalah bahwa tak satupun polisi yang bersedia datang ke TKP tatkala ditelepon untuk menyelamatkan bangunan.

Begitupun dengan pembakaran kantor polisi cab. Al-Warraq. Aiman Nur, ketua Partai Masa Depan Baru (haluan sekuler) tatkala menyaksikan siaran televisi yang meliput kejadian, dengan berani mengatakan, “Saya yakin bahwa pelakunya adalah aparat dan saya bisa menyebutkan kepada anda siapa-siapa pelakunya. Sebagaimana ditayangkan pada tv Mesir, sudah saya ceritakan di status sebelumnya “Kemarahan yang terorganisisr”.
Mengenai kantor pusat polisi di Provinsi Giza, masyarakat yang menjadi saksi mata menyebutkan bahwa kantor dibakar sebelum demonstran datang.

Adapun kantor Al-Muqawilun Al-Arab (Arab Kontrakor), direkturnya sendiri mengakui bahwa yang membakar adalah helikopter aparat, karena kebakaran ada di lantai atas sedangkan demonstran berada di bawah gedung, sampai akhirnya ia dipecat.

Adapun sniper yang ramai disiarkan di berbagai televisi Mesir bahwa ia adalah orang Ikhwan yang menembaki para polisi dari atas menara, imam Masjid Al-Fath dengan berani mementahkan bukti tersebut. Ia menyatakan bahwa menara masjid ada di bawah penguasaan militer dan pintu masuknya pun bukan dari dalam masjid tapi dari luar. Sementara bagian luar masjid sudah dikuasai aparat. Kalau benar pelakunya orang IM, seharusnya mereka (polisi) telah naik ke atas menara dan menangkap pelaku tersebut, lalu memberitahukan kepada masyarakat identitas pelaku, senapan dan peluru yang digunakan. Tapi itu tidak dilakukan karena sama artinya dengan membuka kedok sendiri. Imam Masjid pun di tangkap aparat.

Saya kira isu seperti ini akan terus digulirkan. Kita sebagai penonton di negeri ini jangan sampai dikibuli atau terkecoh dengan berita yang “la yajlis” alias “nggak jelas.”

Mudah-mudahan lisan kita terjaga dari latah atas istilah yang sangat sangat merugikan umat Islam, memojokkan dan merendahkan ini. Kita kalungkan saja istilah itu kepada pemiliknya, jangan sampai umat Islam yang memakainya atau kita yang memakaikannya kepada umat. Wallahu ‘alam

 *Dari berbagai sumber

Jamaluddin Junaedi
Redaktur: Harun AR

Dikutip dari: http://www.sinaimesir.net/2013/08/memberantas-teroris.html

Percaya Atau Tidak, Kudeta Militer Mesir Terhadap Mursi Mengungkap Banyak Hal

Percaya Atau Tidak, Kudeta Militer Mesir Terhadap Mursi Mengungkap Banyak Hal. Seperti tidak biasanya, krisis Mesir telah menyita perhatian dunia sehingga membuat kita mengetahui banyak hal, Mulai dari tampilnya generasi baru pejuang kebenaran secara berjama’ah ke depan public sampai terkuaknya para pelaku kejahatan dan para pendukung-pendukungnya. Dalam hal ini saya melihat sebagai berikut:

– Apa yang terjadi di Mesir menyingkap siapa sebenarnya Militer Mesir selama ini, bagaimana cara kepemimpinan mereka, siapa saja jendral-jendral lalim dan siapa saja jendral-jendral baik

– Mengungkap ketidak gentelmenan orang-orang sekuler-liberal dalam berdemokrasi jika berhadapan dengan kelompok Islam

– Mengungkap siapa-siapa saja para pengkhianat Negara Mesir yang masih mencengkram di pemerintahan, jika kudeta ini gagal, menyingkirkan mereka semakin muda

– Kejadian Mesir juga menguak siapa sebenarnya pemimpin Arab yang menyokong kebathilan, mulai dari Raja Arab Saudi sampai pemerintahan Uni Emerat Arab

– Juga menguak lebih terang siapa sebenarnya Israel, dan apa misi besarnya terhadap Mesir

– Semakin nampak jelas wajah asli kemunafikan Amerika Serikan dan Barat, dan bagaimana pandangan asli mereka terhadap demokrasi yang sebenarnya

– Mengungkap lebih jelas siapa sebenarnya Faksi Fatah di Palestina

– Mengungkap siapa kawan dan siapa lawan

– Mempertegas kembali wajah media2 dunia, mana yang Independent dan mana yang menjadi budak kebathilan.

– Sekaligus mengungkap seperti apa wajah-wajah asli para pemimpin dunia (termasuk Presiden RI) jika harus menanggapi kepemimpinan politisi Islam,

– Memperlihatkan kekuatan dan keteguhan rakyat Mesir yang pro terhadap kebenaran, kepaduan dan kekonsistenan mereka dalam memperjuangkan kebenaran yang tak terlihat selama ini.

– Dan yang terakhir, pastinya memperlihatkan bagaimana akhlak dan keteladanan para pejuang Pro –Mursi. Maka tak hayal jika dunia mengatakan bahwa demonstrasi mereka lebih mirip Ibadah haji, karena kegiatan-kegiatannya selain berorasi juga mengisinya dengan tilawah, sholat berjamaah, tarawih berjamaah, qiyamulail berjamaah, buka dan sahur berjamaah, serta kajian-kajian yang menguatkan iman dan menambah wawasan

Sekian, itu dulu, jika ada yang mau nambahin silahkan

Pendukung Pro-Mursi & Anti Kudeta sedang melakukan sholat berjamaan

Pendukung Pro-Mursi & Anti Kudeta sedang melakukan sholat berjamaah

Kata Para Pengamat Timur Tengah

Foto: Kabinet Pemerintahan Kudeta Mesir

Foto: Kabinet Pemerintahan Kudeta Mesir

Ketika Dr. Muhammad Mursi dikudeta dari kursinya sebagai Presiden Mesir oleh Militer, maka berkicaulah para pengamat, terutama pengamat timur tengah. Sebagian dari mereka berbicara seolah bak orang pandai mencoba mengkritisi apa penyebab dilengserkannya Mursi sebagai Presiden sah Mesir, mereka mulai meraba-raba, menganalisa apa sebab ini terjadi. Dan ternyata sebagian besar analisa mereka hanyalah omong kosong belaka. Mereka hanya sekedar beropini agar publik menerima dan melegitimasi Kudeta terhadap Mursi. Hal ini nampak pada susunan kabinet pemerintahan kudeta mesir. Dan fakta pun berbicara

Berikut saya kutip dari twetnya @kaisar_el_rema:

– Kata pengamat Timur-Tengah era Mursi tidak bisa membawa perbaikan hidup makanya dimakzulkan. Ternyata menteri listrik dan BBM tidak berubah.

– Kata pengamat Timur-Tengah era Mursi listrik sering mati dan bensin menjadi langka, Rezim Kudeta ternyata masih pasang mereka di pemerintah.

– Kata pengamat Timur-Tengah ada ikhwanisasi negara. Rezim Kudeta diisi antek Mubarak dan sekuleris tanpa ada kubu Islamis.

– Kata pengamat Timur-Tengah era Mursi tidak ada keamanan dan penyiksaan terjadi. Ternyata Mendagri di Rezim Kudeta tidak juga diganti.

– Kata pengamat Timur-Tengah era Mursi tidak memperdulikan anak muda. Ternyata Rezim Kudeta menterinya tua-tua semua.

– Apalagi sih yang pernah dibilangin pengamat Timur-Tengah?

Mesir

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 07/07/2013

 

AWAL Mei 1998. Presiden Soeharto sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir dan beberapa Afrika bagian utara. Di dalam negeri, ”pejabat negara paling berkuasa” adalah Jenderal TNI Wiranto, Menhankam/Panglima ABRI, selain Wakil Presiden Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Sejak pasca Sidang Umum (SU) Maret 1998, kerusuhan marak di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Gerakan Reformasi dilokomotif mahasiswa Indonesia. Lalu, terjadi chaos. Pembakaran dan penjarahan melanda Jakarta. Pasukan keluar barak—termasuk Pasukan Khusus dan Kostrad, Cijantung kosong. Pasukan berada di beberapa tempat strategis di Jakarta—menungu perintah. Isunya, perintah Letjen TNI Prabowo Soebianto, saat itu Pangkostrad. Jakarta Raya (Jabodetabek) di bawah Pangdam Jaya Mayjen Syafrie Syamsuddin tengah genting dan eksplosif. Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto menggelar pertemuan seluruh perwira—termasuk semua Pangdam di Jakarta Convention Cenre (JCC). Gedung DPR/MPR-RI sudah diduduki/dikuasai mahasiswa.

Sesungguhnya, sangat cukup alasan bagi Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk meminta Presiden Soeharto tetap berada di luar negeri/tidak pulang dahulu karena keadaan Jakarta dan dalam negeri umumnya sedang genting. Lalu, Jenderal Wiranto dapat menampilkan diri, sebagai tokoh yang karena harus mengam­bilalih menyelamatkan negara dari chaos, menjadi Orang Kuat, memu­lih­kan keamanan dan ketertiban, tapi ia tidak melakukannya. Ia tetap berada pada posisinya—tidak mele­bihi/melampaui dari batas we­wenangnya, sampai akhirnya Presi­den Soeharto kembali ke Tanah Air. Presiden Soeharto kembali full in command. Hanya situasi sudah kadung buruk—sangat buruk, dan sudah sulit untuk dikendalikan. Kemudian terjadi pembakaran dan penjarahan itu. Polisi tidak dapat menjalankan tugasnya karena men­ja­di sasaran amuk massa. Keadaan panik. Presiden Soeharto amat sangat tertekan, sampai ia mau menerima utusan tokoh yang me­min­tanya mundur. Nurcholish Mad­jid, salah satu utusan tokoh, menga­takan pada Soeharto: ”Reformasi itu, maksudnya, Bapak mundur!”.

Presiden Soeharto membentuk semacam Dewan Reformasi, salah satu usulan utusan tokoh sebelum­nya, tapi tidak ada yang mau menja­di anggota dewan itu—termasuk semua para tokoh yang semula datang bertemu dengannya. Pak Harto menyadari, keadaan sudah semakin genting. Lalu, 13 orang manteri, termasuk Marsekal TNI Prof Dr Ir Ginandjar Kartasasmita, mengajukan surat pengunduran diri dari posisi atau jabatan menteri demi memberi keleluasaan kepada Presiden Soeharto untuk membu­barkan kabinet dan menyusun kabi­net baru—Kabinet Reformasi. Jus­tru, Pak Harto merasa amat sangat terpukul—bahkan konon merasa ditelikung/dikhianati. Di kedia­mannya, mendung pekat menggan­tung selepas senja pekat itu. Probo­soetedjo, adik tirinya, mendampingi Pak Harto. Menseskab Sa’adillah Moersjid, menunggu perintah.

Perintah turun, agar pakar hu­kum tata negara yang juga salah seorang staf Sesneg menyusun pidato Presiden, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra SH, MH, agar dijemput ke rumahnya di lereng Ciputat dan dibawa ke kediamannya. Dengan kendaraan sedan dinas Men­han­kam/Pangab Wiranto, nomor bin­tang empat, Yusril dapat diangkut dengan mudah. Hanya, ia meminta untuk mampir ke Gedung Dakwah di Menteng. Bertemu dengan Imam Reformasi Prof. Dr. M. Amien Rais MA. Lalu, menjelang lewat tengah malam, Yusril sampai di kediaman pak Harto. Intinya, Prof. Yusril menyarankan Pak Harto menyata­kan mundur deaclare to resign (menyatakan mundur secara sepi­hak tanpa harus menunggu perse­tujuan DPR-RI)—bukan mengaju­kan pengunduran diri karena harus pula menunggu persetujuan DPR-RI yang tentu harus besidang pula terlebih dahulu. Singkat cerita, sebagaimana kita mengetahuinya, Pak Harto menemukan kata/kali­mat yang lebih tepat: lengser ka pra­bon.

DI MESIR, orang kuat Mesir Jenderal Hosni Mubarak yang sudah cukup lama berkuasa pasca Presiden Anwar Sadat menjadi sasaran peluru dari pasukan yang tengah defile. Mubarak menghadapi demo yang amat sangat masif dan meluas di seluruh pelosok negeri Mesir. Apa­lagi di aun-alun kota Kairo. Singkat cerita, militer yang semula menjadi tulang punggung kekuasaan Presi­den Jenderal Mubarak harus meng­ambil posisi/sikap demi masa depan Mesir. Setelah beberapa kasus ber­darah dan merenggut nyawa, Mu­ba­rak pun jatuh. Jabatannya semen­tara dipangku dewan militer, dan wakil presiden. Dalam dan di bawah tekanan sangat berat, militer tidak punya pilihan selain memilih jalan demokrasi: menyelenggarakan pe­milihan umum yang demokratis. Ja­ga membuka kembali hak politik se­mua warga dan kelompok di Mesir—termasuk sejumlah organisasi yang selama pemerintahan Mubarak di­la­rang/ditindas, Ikhwanul Musli­min. Singkat cerita, pemilihan umum bebas dan demokratis sesuai kehendak Barat pun dapat dilang­sungkan, dan kemudian dipilih Mohammad Mursi menjadi Presi­den, 30 Juni 2012.

Sebagai Presiden, Mursi mela­kukan beberapa hal yang mendasar, antara lain, mengubah konstitusi Mesir melalui persetujuan rakyat. Rakyat Mesin mendukung konsti­tusi baru. Dalam konstitusi baru Me­sir, kekuasaan militer dalam politik mesir berakhir. Lalu, Mesir kembali memasuki supremasi sipil. Selain itu, mantan Presiden Hosni Muba­rak dan sejumlah pejabat/petinggi miluter serta polsi—termasuk Men­dagri, diadili dan dijatuhi hukuman. Mubarak dan Mendagri … dihukum semumur hidup. Kendari demikian, kekuatan sisa pendukung mantan presiden Hosni Mubarak dan ke­lom­pok sekuler Mesir tidak happy dengan kemenangan Presiden Mursi yang mewakili kekuatan politik Islam—dengan kekuatan inti Ikhwa­nul Muslimin. Perselisihan Mursi dan kekuatan oposisi—kemudian sebetulnya juga militer, bermula dari konstitusi baru Mesir yang tidak saja memberikan kewenangan besar kepada presiden, tapi, juga meng­konsolidasikan kekuatan politik Islam. Kekuatan oposisi dan militer kemudian menjadi kekuatan yang menentang Presiden Mursi.

Yang kemudian menjadi masa­lah pokok oposisi adalah konstitusi baru Mesir dan juga pemerintahan Mursi yang didominasi Ikhwanul Muslimin. Lalu, satu kelompok sekuler baru lainnya, yang digam­barkan didominasi kalangan genera­si muda, yang kemudian menya­takan ketidakpuasan terhadap Mur­si yang dipandang amat lamban dalam melakukan perubahan di Mesir. Dengan alasan itu, mereka mengumpulkan sekitar 20 juta tanda tangan dan mengajukan mosi terhadap Presiden Mursi. Mereka menghendaki Mursi turun dan dilangsungkan pemilihan presiden Mesir yang baru—walaupun Mursi baru setahun menjabat presiden Mesir. Jalan ini yang kemudian dipilih militer Mesir di bawah pim­pinan Menteri Pertahanan Menteri Pertahanan Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, yang mengultimatum Presi­den Mursi dua kali 24 jam untuk menyatakan mundur/dilaksanakan pemilihan presiden—sesuatu dalam perspektif demokrasi Barat sebagai terasa aneh karena Mursi dipilih/terpilih melalui pemilu dan tidak melakukan kejahatan politik/terha­dap negara.

Masalahnya, kemudian sangat ditentukan oleh posisi/watak/ke­cen­derungan militer Mesir memiliki pengalaman sejarah melakukan kudeta dan berkuasa di Mesir sejak Jenderal Gamal Abdul Nasser (1952) setelah menggulingkan Raja Faruk—ia berkuasa sampai tahun 1970. Kemudian dilanjutkan Jenderal Anwar el-Sadat (15 Oktober 1970), dan ia terbunuh saat menghadiri defile militer, 6 Oktober 1981. Sadat digantikan wakil presiden Jenderal Hosni Mubarak. Setelah berkuasa selama 30 tahun, Mubarak akhirnya mundur 11 Februari 2011, setelah mendapat tekanan dalam negeri (demostrasi besar dan berke­teru­san) dan tekanan diplomatik. Mursi terpilih jadi presiden Mesir ke-5, dan dilantik 1 Juli 2012. Mursi digu­ling­kan/dikudeta militer/Menhan Mesir Jenderal Abdul Fatah al-Sisi, se­orang perwira militer didikan US Army War College di Pennsylvania, 4 Juli 2013, dan jabatan presiden Mesir sementara dipikul hakim Mahkamah Agung Adly Mansour. Kita tengah menunggu berbagai perkembangan. Apakah Mesir akan kembali berada di bawah militer!?

APA sesungguhnya yang terjadi di Mesir pascanegara yang men­dirikan Liga Arab dan memimpin dunia Arab sejak semula itu? Jawa­ban yang mudah adalah karena militer—kemungkinan juga kon­spirasi Barat yang tidak happy ke­kuasaan Mesir berada di tangan kaum fundamentalis Islam. Bagai­mana pun Mursi terpilih secara de­mokratis/melalui pemilihan umum, dan ia tidak melakukan kejahatan terhadap negara dan rakyatnya. Dan, hanya karena ketidaksabaran ter­ha­dap hasil perubahan yang pasca­kejatuhan Mubarak, ia dijatuhkan/dikudeta militer, lalu ”kelompok oposisi” bersukacita? Sangat tidak mustahil ada campur tangan Barat dalam kudeta terhadap Presiden Mursi. Bukan saja dalam perspektif demokrasi Barat hal itu akan men­jadi masalah pada sebagian negara Barat—karena akan dipandang men­ce­derai demokrasi, tapi, terutama kerusuhan akan kembali marak, karena pendukung Mursi tidak akan dapat menerima. Mesir akan kem­bali chaos. Harga mahal yang akan harus dibeli oleh Mesir pascakudeta Jenderal Abdul Fatah al-Sisi. Apa­pun yang dilakukan al-Sisi, adalah kudeta terhadap Mursi yang terpilih secara demokratis!

Berbeda dengan Indonesia—bilamana dibandingkan dengan militer Mesir. Militer kita tak me­miliki pengalaman kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Mungkin kita akan berdebat, apa yang dilaku­kan militer Indonesia pada Presiden Soekarno. Saat posisi/kedudukan Presiden Soeharto genting, dan amat sangat terbuka peluang bagi Men­hankam/Pangab Jenderal Wiranto untuk ”menyelamatkan situasi” atau mengambilalih kekuasaan, toh hal itu tidak terjadi. Militer Indonesia mungkin pernah cenderung fasis, tapi tidak berpengalaman mela­kukan kudeta terhadap pemerin­tahan yang sah! Militer Indonesia selalu mengumandangkan ”kontu­sional” dan ’melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen”—konstatasi ini debatable. Cucu Magek Dirih hanya hen­dak mengatakan, bagaimana pun kudeta terhadap kekuasaan yang sah—apalagi terhadap presiden yang terpilih secara demokratis (melalui pemilu), tetap tidak dapat diterima oleh akal sehat kita. Apalagi risiko/konsekuensi/harga mahal yang harus dibayar sesudah kudeta itu. (*)

 

Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3619