Memberantas “Teroris” Apa Maksudnya?

Foto: Mesjid dan Rumah Sakit Rabi'ah Adawiyah yang dibakar Aparat Mesir

Membongkar Propaganda Licik Rezim Kudeta Mesir

Saya teringat pelajaran Dr. Sa’dudin Hilaly di Lembaga Fatwa Mesir tentang fikih kontemporer dengan tema Bursa Efek. Beliau mengatakan, “Tidak ada satupun definisi yang jelas tentang bursa efek. Kenapa demikian? Kalau didefinisikan dengan jelas, maka hukum syar’i-nya pun jadi jelas (tidak abu-abu) dan bursa efek akan bubar karena orang akan mengetahui belangnya”. Ini sama dengan kata teroris. Ia adalah hantu yang tidak pernah didefinisikan Amerika dan dunia internasional dengan jelas. Kalau didefinisikan dengan gamblang maka ia akan menghantui kepentingan mereka dan segala kegiatan yang bernama terorisme akan tertuju pada hidung mereka sendiri .
Jangan heran jika ada penjahat yang membantai sejuta orang dan memperoleh restu dari pemilik istilah, tiba-tiba ia tidak disebut sebagai teroris. Kebrutalannya hanya disebut sebagai pembelaan diri dan endingnya bahkan dialah yang disebut pahlawan. Coba saja tonton film perang Amerika vs Vietnam.

“Memberantas Teroris”. Inilah isu yang sedang digadang-gadang oleh media Mesir ke luar sekarang ini. Bahkan Penasehat politik presiden “kudeta” sementara Mesir, Musthafa Hijazy pun dengan terang-terangan menyatakan bahwa apa yang terjadi di Mesir adalah perang yang disulut oleh kaum extrimis dan teroris.
Tuduhan ini tentu harus dilandasi bukti kongkrit di lapangan.

Setelah mereka (media dan pemerintah kudeta) gagal meyakinkan dunia bahwa Ikhwan adalah dalang pembantaian di halaman depan monumen Anwar Sadat dan Rabea Adawea Square, akhirnya mereka merancang bukti lain yang dianggapnya logis, diantaranya adalah:

1- Pembakaran gereja koptik di Al Menia
2- Pembakaran kantor polisi cabang al-Warraq
3- Pembakaran kantor pusat polisi di Provinsi Giza
4- Menempatkan sniper di atas menara Masjid Al-Fath, Ramsis Sq.
5- Pembakaran Kantor Al-Muqawilun Arab (Arab Kontraktor)

Pembakaran dilakukan tatkala para demosntran tengah melewati gedung tersebut, sehingga mudah untuk menuduhkan semua pelaku kriminal kepada IM.
Ternyata, mereka dipermalukan di hadapan rakyatnya sendiri dengan skenario kuno ini, karena hal serupa pernah dilakukan pada tahun 2011 saat revolusi dan menjadi rahasia umum bahwa pelakunya adalah aparat.

Gereja Mar Girgis di Al Menia misalnya, Uskup Ayub Yusuf penanggung jawab gereja Mar Girgis Al Menya memastikan bahwa yang menyerang gerejanya adalah para preman dan bukan demonstran. Diantara bukti kuat dugaan ini adalah bahwa tak satupun polisi yang bersedia datang ke TKP tatkala ditelepon untuk menyelamatkan bangunan.

Begitupun dengan pembakaran kantor polisi cab. Al-Warraq. Aiman Nur, ketua Partai Masa Depan Baru (haluan sekuler) tatkala menyaksikan siaran televisi yang meliput kejadian, dengan berani mengatakan, “Saya yakin bahwa pelakunya adalah aparat dan saya bisa menyebutkan kepada anda siapa-siapa pelakunya. Sebagaimana ditayangkan pada tv Mesir, sudah saya ceritakan di status sebelumnya “Kemarahan yang terorganisisr”.
Mengenai kantor pusat polisi di Provinsi Giza, masyarakat yang menjadi saksi mata menyebutkan bahwa kantor dibakar sebelum demonstran datang.

Adapun kantor Al-Muqawilun Al-Arab (Arab Kontrakor), direkturnya sendiri mengakui bahwa yang membakar adalah helikopter aparat, karena kebakaran ada di lantai atas sedangkan demonstran berada di bawah gedung, sampai akhirnya ia dipecat.

Adapun sniper yang ramai disiarkan di berbagai televisi Mesir bahwa ia adalah orang Ikhwan yang menembaki para polisi dari atas menara, imam Masjid Al-Fath dengan berani mementahkan bukti tersebut. Ia menyatakan bahwa menara masjid ada di bawah penguasaan militer dan pintu masuknya pun bukan dari dalam masjid tapi dari luar. Sementara bagian luar masjid sudah dikuasai aparat. Kalau benar pelakunya orang IM, seharusnya mereka (polisi) telah naik ke atas menara dan menangkap pelaku tersebut, lalu memberitahukan kepada masyarakat identitas pelaku, senapan dan peluru yang digunakan. Tapi itu tidak dilakukan karena sama artinya dengan membuka kedok sendiri. Imam Masjid pun di tangkap aparat.

Saya kira isu seperti ini akan terus digulirkan. Kita sebagai penonton di negeri ini jangan sampai dikibuli atau terkecoh dengan berita yang “la yajlis” alias “nggak jelas.”

Mudah-mudahan lisan kita terjaga dari latah atas istilah yang sangat sangat merugikan umat Islam, memojokkan dan merendahkan ini. Kita kalungkan saja istilah itu kepada pemiliknya, jangan sampai umat Islam yang memakainya atau kita yang memakaikannya kepada umat. Wallahu ‘alam

 *Dari berbagai sumber

Jamaluddin Junaedi
Redaktur: Harun AR

Dikutip dari: http://www.sinaimesir.net/2013/08/memberantas-teroris.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s