Mesir

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 07/07/2013

 

AWAL Mei 1998. Presiden Soeharto sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir dan beberapa Afrika bagian utara. Di dalam negeri, ”pejabat negara paling berkuasa” adalah Jenderal TNI Wiranto, Menhankam/Panglima ABRI, selain Wakil Presiden Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Sejak pasca Sidang Umum (SU) Maret 1998, kerusuhan marak di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Gerakan Reformasi dilokomotif mahasiswa Indonesia. Lalu, terjadi chaos. Pembakaran dan penjarahan melanda Jakarta. Pasukan keluar barak—termasuk Pasukan Khusus dan Kostrad, Cijantung kosong. Pasukan berada di beberapa tempat strategis di Jakarta—menungu perintah. Isunya, perintah Letjen TNI Prabowo Soebianto, saat itu Pangkostrad. Jakarta Raya (Jabodetabek) di bawah Pangdam Jaya Mayjen Syafrie Syamsuddin tengah genting dan eksplosif. Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto menggelar pertemuan seluruh perwira—termasuk semua Pangdam di Jakarta Convention Cenre (JCC). Gedung DPR/MPR-RI sudah diduduki/dikuasai mahasiswa.

Sesungguhnya, sangat cukup alasan bagi Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk meminta Presiden Soeharto tetap berada di luar negeri/tidak pulang dahulu karena keadaan Jakarta dan dalam negeri umumnya sedang genting. Lalu, Jenderal Wiranto dapat menampilkan diri, sebagai tokoh yang karena harus mengam­bilalih menyelamatkan negara dari chaos, menjadi Orang Kuat, memu­lih­kan keamanan dan ketertiban, tapi ia tidak melakukannya. Ia tetap berada pada posisinya—tidak mele­bihi/melampaui dari batas we­wenangnya, sampai akhirnya Presi­den Soeharto kembali ke Tanah Air. Presiden Soeharto kembali full in command. Hanya situasi sudah kadung buruk—sangat buruk, dan sudah sulit untuk dikendalikan. Kemudian terjadi pembakaran dan penjarahan itu. Polisi tidak dapat menjalankan tugasnya karena men­ja­di sasaran amuk massa. Keadaan panik. Presiden Soeharto amat sangat tertekan, sampai ia mau menerima utusan tokoh yang me­min­tanya mundur. Nurcholish Mad­jid, salah satu utusan tokoh, menga­takan pada Soeharto: ”Reformasi itu, maksudnya, Bapak mundur!”.

Presiden Soeharto membentuk semacam Dewan Reformasi, salah satu usulan utusan tokoh sebelum­nya, tapi tidak ada yang mau menja­di anggota dewan itu—termasuk semua para tokoh yang semula datang bertemu dengannya. Pak Harto menyadari, keadaan sudah semakin genting. Lalu, 13 orang manteri, termasuk Marsekal TNI Prof Dr Ir Ginandjar Kartasasmita, mengajukan surat pengunduran diri dari posisi atau jabatan menteri demi memberi keleluasaan kepada Presiden Soeharto untuk membu­barkan kabinet dan menyusun kabi­net baru—Kabinet Reformasi. Jus­tru, Pak Harto merasa amat sangat terpukul—bahkan konon merasa ditelikung/dikhianati. Di kedia­mannya, mendung pekat menggan­tung selepas senja pekat itu. Probo­soetedjo, adik tirinya, mendampingi Pak Harto. Menseskab Sa’adillah Moersjid, menunggu perintah.

Perintah turun, agar pakar hu­kum tata negara yang juga salah seorang staf Sesneg menyusun pidato Presiden, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra SH, MH, agar dijemput ke rumahnya di lereng Ciputat dan dibawa ke kediamannya. Dengan kendaraan sedan dinas Men­han­kam/Pangab Wiranto, nomor bin­tang empat, Yusril dapat diangkut dengan mudah. Hanya, ia meminta untuk mampir ke Gedung Dakwah di Menteng. Bertemu dengan Imam Reformasi Prof. Dr. M. Amien Rais MA. Lalu, menjelang lewat tengah malam, Yusril sampai di kediaman pak Harto. Intinya, Prof. Yusril menyarankan Pak Harto menyata­kan mundur deaclare to resign (menyatakan mundur secara sepi­hak tanpa harus menunggu perse­tujuan DPR-RI)—bukan mengaju­kan pengunduran diri karena harus pula menunggu persetujuan DPR-RI yang tentu harus besidang pula terlebih dahulu. Singkat cerita, sebagaimana kita mengetahuinya, Pak Harto menemukan kata/kali­mat yang lebih tepat: lengser ka pra­bon.

DI MESIR, orang kuat Mesir Jenderal Hosni Mubarak yang sudah cukup lama berkuasa pasca Presiden Anwar Sadat menjadi sasaran peluru dari pasukan yang tengah defile. Mubarak menghadapi demo yang amat sangat masif dan meluas di seluruh pelosok negeri Mesir. Apa­lagi di aun-alun kota Kairo. Singkat cerita, militer yang semula menjadi tulang punggung kekuasaan Presi­den Jenderal Mubarak harus meng­ambil posisi/sikap demi masa depan Mesir. Setelah beberapa kasus ber­darah dan merenggut nyawa, Mu­ba­rak pun jatuh. Jabatannya semen­tara dipangku dewan militer, dan wakil presiden. Dalam dan di bawah tekanan sangat berat, militer tidak punya pilihan selain memilih jalan demokrasi: menyelenggarakan pe­milihan umum yang demokratis. Ja­ga membuka kembali hak politik se­mua warga dan kelompok di Mesir—termasuk sejumlah organisasi yang selama pemerintahan Mubarak di­la­rang/ditindas, Ikhwanul Musli­min. Singkat cerita, pemilihan umum bebas dan demokratis sesuai kehendak Barat pun dapat dilang­sungkan, dan kemudian dipilih Mohammad Mursi menjadi Presi­den, 30 Juni 2012.

Sebagai Presiden, Mursi mela­kukan beberapa hal yang mendasar, antara lain, mengubah konstitusi Mesir melalui persetujuan rakyat. Rakyat Mesin mendukung konsti­tusi baru. Dalam konstitusi baru Me­sir, kekuasaan militer dalam politik mesir berakhir. Lalu, Mesir kembali memasuki supremasi sipil. Selain itu, mantan Presiden Hosni Muba­rak dan sejumlah pejabat/petinggi miluter serta polsi—termasuk Men­dagri, diadili dan dijatuhi hukuman. Mubarak dan Mendagri … dihukum semumur hidup. Kendari demikian, kekuatan sisa pendukung mantan presiden Hosni Mubarak dan ke­lom­pok sekuler Mesir tidak happy dengan kemenangan Presiden Mursi yang mewakili kekuatan politik Islam—dengan kekuatan inti Ikhwa­nul Muslimin. Perselisihan Mursi dan kekuatan oposisi—kemudian sebetulnya juga militer, bermula dari konstitusi baru Mesir yang tidak saja memberikan kewenangan besar kepada presiden, tapi, juga meng­konsolidasikan kekuatan politik Islam. Kekuatan oposisi dan militer kemudian menjadi kekuatan yang menentang Presiden Mursi.

Yang kemudian menjadi masa­lah pokok oposisi adalah konstitusi baru Mesir dan juga pemerintahan Mursi yang didominasi Ikhwanul Muslimin. Lalu, satu kelompok sekuler baru lainnya, yang digam­barkan didominasi kalangan genera­si muda, yang kemudian menya­takan ketidakpuasan terhadap Mur­si yang dipandang amat lamban dalam melakukan perubahan di Mesir. Dengan alasan itu, mereka mengumpulkan sekitar 20 juta tanda tangan dan mengajukan mosi terhadap Presiden Mursi. Mereka menghendaki Mursi turun dan dilangsungkan pemilihan presiden Mesir yang baru—walaupun Mursi baru setahun menjabat presiden Mesir. Jalan ini yang kemudian dipilih militer Mesir di bawah pim­pinan Menteri Pertahanan Menteri Pertahanan Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, yang mengultimatum Presi­den Mursi dua kali 24 jam untuk menyatakan mundur/dilaksanakan pemilihan presiden—sesuatu dalam perspektif demokrasi Barat sebagai terasa aneh karena Mursi dipilih/terpilih melalui pemilu dan tidak melakukan kejahatan politik/terha­dap negara.

Masalahnya, kemudian sangat ditentukan oleh posisi/watak/ke­cen­derungan militer Mesir memiliki pengalaman sejarah melakukan kudeta dan berkuasa di Mesir sejak Jenderal Gamal Abdul Nasser (1952) setelah menggulingkan Raja Faruk—ia berkuasa sampai tahun 1970. Kemudian dilanjutkan Jenderal Anwar el-Sadat (15 Oktober 1970), dan ia terbunuh saat menghadiri defile militer, 6 Oktober 1981. Sadat digantikan wakil presiden Jenderal Hosni Mubarak. Setelah berkuasa selama 30 tahun, Mubarak akhirnya mundur 11 Februari 2011, setelah mendapat tekanan dalam negeri (demostrasi besar dan berke­teru­san) dan tekanan diplomatik. Mursi terpilih jadi presiden Mesir ke-5, dan dilantik 1 Juli 2012. Mursi digu­ling­kan/dikudeta militer/Menhan Mesir Jenderal Abdul Fatah al-Sisi, se­orang perwira militer didikan US Army War College di Pennsylvania, 4 Juli 2013, dan jabatan presiden Mesir sementara dipikul hakim Mahkamah Agung Adly Mansour. Kita tengah menunggu berbagai perkembangan. Apakah Mesir akan kembali berada di bawah militer!?

APA sesungguhnya yang terjadi di Mesir pascanegara yang men­dirikan Liga Arab dan memimpin dunia Arab sejak semula itu? Jawa­ban yang mudah adalah karena militer—kemungkinan juga kon­spirasi Barat yang tidak happy ke­kuasaan Mesir berada di tangan kaum fundamentalis Islam. Bagai­mana pun Mursi terpilih secara de­mokratis/melalui pemilihan umum, dan ia tidak melakukan kejahatan terhadap negara dan rakyatnya. Dan, hanya karena ketidaksabaran ter­ha­dap hasil perubahan yang pasca­kejatuhan Mubarak, ia dijatuhkan/dikudeta militer, lalu ”kelompok oposisi” bersukacita? Sangat tidak mustahil ada campur tangan Barat dalam kudeta terhadap Presiden Mursi. Bukan saja dalam perspektif demokrasi Barat hal itu akan men­jadi masalah pada sebagian negara Barat—karena akan dipandang men­ce­derai demokrasi, tapi, terutama kerusuhan akan kembali marak, karena pendukung Mursi tidak akan dapat menerima. Mesir akan kem­bali chaos. Harga mahal yang akan harus dibeli oleh Mesir pascakudeta Jenderal Abdul Fatah al-Sisi. Apa­pun yang dilakukan al-Sisi, adalah kudeta terhadap Mursi yang terpilih secara demokratis!

Berbeda dengan Indonesia—bilamana dibandingkan dengan militer Mesir. Militer kita tak me­miliki pengalaman kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Mungkin kita akan berdebat, apa yang dilaku­kan militer Indonesia pada Presiden Soekarno. Saat posisi/kedudukan Presiden Soeharto genting, dan amat sangat terbuka peluang bagi Men­hankam/Pangab Jenderal Wiranto untuk ”menyelamatkan situasi” atau mengambilalih kekuasaan, toh hal itu tidak terjadi. Militer Indonesia mungkin pernah cenderung fasis, tapi tidak berpengalaman mela­kukan kudeta terhadap pemerin­tahan yang sah! Militer Indonesia selalu mengumandangkan ”kontu­sional” dan ’melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen”—konstatasi ini debatable. Cucu Magek Dirih hanya hen­dak mengatakan, bagaimana pun kudeta terhadap kekuasaan yang sah—apalagi terhadap presiden yang terpilih secara demokratis (melalui pemilu), tetap tidak dapat diterima oleh akal sehat kita. Apalagi risiko/konsekuensi/harga mahal yang harus dibayar sesudah kudeta itu. (*)

 

Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3619

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s