ISLAM DI MADURA (III)

Oleh: Buya Hamka

Sultan Agung yang benar-benar “Agung” itu mangkat pada tahun 1654. Dia seorang pahlawan yang besar sekali minatnya menyatukan tanah Jawa, supaya satu kekuatan menghadapi Kompeni. Baginda pernah mengatur tentara mengepung Jakarta, walaupun tak berhasil, Yan Pieterzon Coen yang terkenal sebagai lambang penjajahan Belanda “nomor 1”, adalah duri beracun dalam mata sultan. Kompeni telah berhasil memutuskan hubungan Jawa dengan Indonesia Timur.

Yang berhak menjadi gantinya ialah Pangeran Ario Prabu Adi Mataram. Sebab ibunya ialah puteri dari istana Cirebon. Baginda bergelar Amangkurat I (Amangku= memangku. Rat= bumi). Jadi yang memangku bumi ini! Jika Almarhum Sultan Agung berusaha “membuat” satu filsafat kenegaraan menggabungkan Tauhid Islam dengan segala macam khurafat Hindu, sehingga itu ternyata dalam gelarnya sebagai “Sultan” dan sebagai “Prabu”, namun pada puteranya adalah satu sikap yang lebih tegas terhadap Islam.

Infiltrasi Islam “Ahlussunnah wal Jama’ah” tetap mengalir juga dari Pesisir. Dari Giri, Kudus dan Demak! Islam yang demikian tidak mau mengakui bahwa raja adalah wakil mutlak Tuhan buat memerintah Alam. Mereka lebih tertarik akan cara pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh. Yakni kaum agama diberi hak luas menyiarkan Islam dan menuntunkannya. Raja jangan hanya semata-mata menenggang hati golongan yang belum Islam, sehingga kemajuan Islam terhambat. Apalah artinya tanah Jawa menerima Islam sebagai agama, padahal hukum agama tidak menjadi kenyataan. Bahkan upacara-upacara. kehinduan masih berlaku.

Dan lagi kaum Ulama itu, didesak oleh rasa Tauhid yang bergelora di dadanya, bersikap Kadang-kadang seperti orang “kurang ajar”. Mereka datang ke istana dengan “pakaian Arab” memakai serban, jubah, tasbih di tangan dan tidak mau menyembah sujud kepada “Ingkang Sinuhun”(Yang disembah!). Berbeda Sultan Agung dengan Amangkurat! Karena baginda Sultan Agung masih dapat membawakan hidup dalam kalangan kaum agama. Tetapi Amangkurat I benci melihat Kiyahi-kiyahi itu. Sombong, tidak mengenal hormat dan kadang-kadang berani bercakap terus-terang di hadapan raja! Kadang-kadang pula tidak mempedulikan tata -bahasa percakapan istana yang sampai 5 tingkatnya itu. Kalau ditanya mengapa demikian, mereka menjawab “sedangkan kepada Allah, kami hanya mengucapkan engkau saja (anta), betapa kepa a Raja kami akan mengucapkan lebih daripada itu?” Apakah maunya baginda? Maunya baginda ialah supaya ajaran Islam yang tegas itu jangan diajarkan kepada rakyat!

Ulama jangan menghadapi masyarakat secara langsung. Yang bertanggung jawab menghadapi rakyat cilik hanyalah lurah, lurah kepada carik, carik atau camat dan camat kepada Wedana atau “Demang”, kepada Patih, Bupati, Adipati, baru kepada “Kanjeng Gusti Ingkang Sinuhun”. Dan Ulama yang sah, hanyalah yang resmi dalam pemerintahan. Kerjanya mengurus mesjid, tinggal sekeliling Kauman, mencukupkan jama’ah 40 orang. Kedudukan mereka  ialah sebagai “Jogosworo”.

Kalau ajaran Ulama sampai kepada rakyat kecil, kaca ulah pemerintahan dan hilang lenyaplah kepatuhan kepada yang di atas. Akhimya  sampailah pertentangan Ulama dalam Kerajaan Mataram dengan Susuhunan meningkat demikian tinggi, sehingga Susuhunan memerintahkan menangkapi seluruh Kiyahi dan Santrinya dalam seluruh kerajaan, yang tidak kurang dari 7.000 (tujuh ribu) orang banyaknya. Menyuruh mereka naik tiang gantungan! Yang tinggal hidup hanyalah Ulama yang diakui oleh Kraton! Yang sempat lari, terus lari ke daerah lain! Adapun Kompeni Belanda, setelah Sultan Agung yang gagah perkasa mangkat, mulailah mengatur siasatnya lebih ketat dari yang sudah-sudah.

Kompeni sudah menguasai Bantam, Ambon, Ternate dan Makassar. Padahal Hitu (Maluku) telah sejak zaman Majapahit adalah lapangan perniagaan orang Jawa yang membawa kemakmuran. Sejak daerah itu dikuasai Kompeni, Jawa bertambah miskin. Kompeni menyodorkan perjanjian bahwasanya Kompeni mengakui keagungan Mataram. Kompeni mengirimkan delegasi ke Mataram setiap tahun, alamat persahabatan. Tetapi jika orang Mataram hendak ke luar ke daerah-daerah yang dikuasai Kompeni hendaklah membawa surat “izin” daripadanya.

Dari sebelah Pesisir timbullah rasa tidak puas. Kaum Ulama memandang Amangkurat musuh Islam. Perasaan ini dipelopori oleh Giri. Rasa Islam lebih mendalam di Madura! Di Madura pun berkembanglah rasa dendam terhadap Mataram. Apatah lagi Cakraningrat II yang menerima pusaka jabatan adipati tertinggi bagi Madura, lebih lekat hatinya ke Mataram daripada ke Madura sendiri. Jodoh yang dipilih adalah puteri Mataram, bukan puteri Madura. Menjadi Raja di Madura, tetapi sangat jarang datang ke Madura. Dan jika pulang membawa adat-istiadat istana yang sangat berat, tidak sesuai dengan jiwa orang Madura!

Di Ma ura pun tumbuh rasa tidak puas. Di Makassar telah tumbuh pula perasaan tidak puas itu. Perjanjian Bongaya (1667) sangat merugikan Makassar. Perahu-perahu Makassar hanya boleh berlayar bila telah dapat izin dari Kompeni. Hanya Kompeni yang boleh memasukkan (impor) kain-kain dan barang-barang Tiongkok ke Makassar. Makassar diwajibkan membayar ganti kerugian perang. Lebih menyakitkan hati lagi karena yang dijadikan alat menaklukkan dan mengalahkan Makassar ialah anak Bugis sendiri, Aru Palaka anak Raja Sopeng.

Dari itu banyaklah pahlawan Bugis dan Makassar mengembara meninggalkan kampung halaman dengan hati hiba. Banyak di antara mereka pergi ke Jawa, baik Jawa Timur atau Jawa Barat. Di mana saja ada perlawanan kepada Kompeni, dengan tidak fikir panjang mereka turut membantu, turut berjuang. Di antara mereka ialah Syekh Yusuf yang menjadi Mufti Kerajaan Bantam di zaman Sultan Agung Tirtayasa. Di antara mereka pula ialah Karaeng Galesong yang bertemu di Madura dengan Trunojoyo dan memadukan kekuatan jadi satu melawan Kompeni.

Tidak puasnya kaum Ulama di bawah pimpinan Pangeran Giri, bertambah dengan tidak puasnya pahlawan Makassar Karaeng Galesong ditambah lagi dengan tidak puasnya  Madura karena perangai Adipatinya Cakraningrat II, inilah yang berkumpul jadi satu untuk menimbulkan “Perang Trunojoyo” yang terlukis dalam sejarah abad ketujuh belas itu! Trunojoyo anak bangsawan Madura dianggap sebagai Kepala Perang Sabil.

Udara telah bertukar! Jika dahulu tatkala Sultan Agung masih hidup, musuhnya yang utama ialah Kompeni Belanda dan Belanda menyokong adipati Surabaya untuk melawan Mataram, sekarang keadaan telah terbalik. Hidup mati, naik turunnya Mataram, sejak Amangkurat I adalah dibawah belas kasihannya Kompeni. Tentara Mataram dibantu oleh tentara Kompeni Belanda berbaris rapat menentang serangan. Untuk itu Amangkurat I terpaksa m ngurbankan lagi kemerdekaan Mataram. Kompeni berjanji akan membantunya sampai menang, dengan bayaran 250.000 rial da  3.000 pikul beras. Kalau perang lebih lama, maka Susuhunan akan menambah bayaran 20.000 rial lagi. Dan sejak itu Kompeni harus dibebaskan dari biaya cukai memasukkan barang-barang di seluruh pelabuhan Jawa. Kompeni berhak mendirikan kantor (loji-loji) di mana dipandangnya perlu dan dapat bayaran pula 4.000 pikul beras menurut harga pasar.

Setelah perjanjian ini disetujui oleh Susuhunan Amangkurat I barulah Kompeni bertindak tegas menghadapi gabungan tiga pahlawan yakni Trunojoyo yang meresmikan gelar Prabu Maduretno, Karaeng Galesong pahlawan Makassar dan Pangeran Giri dari kalangan Ulama! Maka mulailah Speelman pahlawan Kompeni yang mempelopori perjanjian Bongaya itu melakukan peranannya, di samping perang senjata dipakainya juga perang siasat. Tetapi Pahlawan Madura Trunojoyo adalah keras kersang, tak dapat ditawar, laksana gunung-gunung kapur di pulau Madura juga. Tiap berperang, tiap terdesaklah Kompeni dan semakin luaslah daerah yang dapat dikuasainya. Sudah hampir seluruh Pesisir Jawa dapat direbutnya. Perlawanan pun timbul di mana-mana. Sejak dari Bantam di Barat, sampai ke daerah Priangan, bahkan sampai ke Kediri Jawa.

Timur telah menggelegak menanti masa dan ketika buat menyatakan terang-terang menjadi pengikut Trunojoyo. Di ibu kota sendiri kebencian orang bertambah memuncak kepada Susuhunan. Dengan

Terang-terang orang telah berani memuji Trunojoyo di hadapan majlis baginda. Baginda dicap kena”keparat” para kiyahi dan santri yang baginda suruh bunuh. Malahan Raden Kejoran, seorang pegawai tinggi yang dipercayai selama ini, hilang dengan tiba-tiba dari ibu kota dan terdengar telah ada di Kediri menggabungkan diri kepada tentara Trunojoyo.

Sangatlah keras tekanan batin yang menekan perasaan baginda. Negeri terjual, rakyat benci, kaum agama menyumpah, sampai akhirnya terganggu jiwa beliau, sehingga baginda meninggalkan istana dengan diam-diam. Keluarnya Susuhunan dan istana dipandang melanggar adat yang sakti. Karena istana tempat baginda bersemayam dipandang memancarkan sinar yang dinamai “Shri” atau “Syakti” dengan sinar itulah negeri diperintah. Speelman yang cerdik tahu akan adat itu. Maka diangkatlah putera Pangeran Adipati Anom menjadi gantinya, atas kehendak Belanda, memakai gelar Susuhunan  Amangkurat II (1677 -1703).

Dan seketika dia akan naik takhta diulurkan lagi perjanjian-perjanjian baru yang lebih mengikat. Kelemahan pertahanan Mataram memaksa Susuhunan yang baru itu menerimanya pula. Bahkan diberi ancaman halus bahwa ayahnya akan dibawa pulang kembali, kalau perjanjian itu tidak ditandatanganinya. Adiknya Pangeran Puger berontak pula dan diangkat pula oleh pengikutnya menjadi Susuhunan!

Adapun Sang Ayah, Amangkurat I mengembaralah dia dari satu negeri ke negeri lain dalam keadaan sakit-sakit, akibat tekanan jiwa, yang boleh disebut gila. Sebab kebesaran pusaka ayahnya Sultan Agung telah hancur-lebur sesampai di tangannya, apatah lagi setelah dalam terdesak itu terasa pentingnya Agama Islam sebagai pegangan hidup, padahal Ulama Islam dibunuhi! Akhirnya karena berat sakitnya itu, sesampai di satu tempat bernama Wonosoyo beliau wafat dan dikuburkan di daerah Tegal, di satu tempat bernama Tegal Wangi, atau Tegal Harum

Setelah kekuasaan yang sebenarnya berada dalam tangan Kompeni, dan tentara Mataram sendiri pada hakikatnyapun telah dalam Komando Kompeni, mulailah dilancarkan gerakan “membasmi pemberontak”. Tiga Se kawan itu. Trunojoyo, Karaeng Galesong, Pangeran Giri. Tidaklah akan kita panjangkan cerita bagaimana hebatnya peperangan itu, sehingga sebagian besar dari Jawa Timur dan Pesisir Jawa Tengah telah jatuh ke bawah ke kuasaan Trunojoyo. Inti kekuatan terletak di pulau Madura, hembusan semangat dari Giri dan kegagah-perkasaan dari Makassar.

Oleh karena bantuan yang bertubi-tubi datangnya dari “Bata via”, kian lama kian terdesak jugalah tentara Trunojoyo. Tetapi yang menentukan bukanlah tentara Belanda, karena dia tidak tahan berperang di tempat yang panas. Belanda terpaksa mendatangkan Aru Palaka. Aru Palaka lagi! Dia sanggup melawan taktik perang Karaeng Galesong orang Makassar, dengan taktik anak Bugis! Sesudah kekalahan Karaeng Galesong, dan jalan dibuka oleh Aru Palaka, barulah Kompeni dapat merebut Porong, akhirnya sampai ke Ngantang di Timur Laut. Tetapi seketika Trunojoyo terdesak dan naik ke lereng Gunung Kelud, Kompeni mengirim Kapten Yonker, anak Ambon yang terkenal itu untuk mengepung beliau. Setelah habis segala pertahanan dan perbekalan tidak ada lagi, Trunojoyo, atau Prabu Maduretno mengirim utusan membawa kerisnya kepada Kapten itu, alamat menyerah, (27 Desember 1679).

Seketika menyerah itu dia berkata. “Saya serahkan diriku kepadamu, Kapten. Karena aku lihat engkau seorang satria yang teguh janji. Aku hanya menyerah kepadamu, bukan kepada Susuhunan. Engkau harus me mperlakukan daku sebagai tawanan perang!” Mulanya Yonker meyakinkan akan meneguhi janjinya. Tetapi janji itu tidak dapat dipertahankannya lama. Karena desakan Kompeni dia harus menyerahkan Trunojoyo kepada Kompeni. Dan oleh Kompeni diserahkan kepada Amangkurat II. Dan beberapa hari kemudian itu Amangkurat II menyentak kerisnya dalam majlis dan menikam Trunojoyo!

Adapun Kapten Yonker, anak Islam dari Ambon yang selama ini setia kepada Kompeni itu, tawanannya yang dibunuh, padahal dia telah berjanji akan memberikan perlindungan, sehingga bisa Trunojoyo dibuang saja, sakitlah hatinya melihat perbuatan yang pengecut itu. (Inilah salah satu sebab maka 10 tahun di belakang, Yonker sendiri pun dihukum mati Kompeni, karena ikut dalam satu komplotan menentang Kompeni di “Batavia” (1798). Dan bersamaan dengan itu dibunuh pula Pangeran Giri, bahkan dimusnahkan bersama dengan keturunannya, dirampas keris pusakanya, yang dengan keris itu nenek-moyangnya dahulu melawan Kerajaan Majapahit!

Demikianlah kisah perjuangan Islam meminta tempatnya di sebagian tanah air kita ini dalam abad ketujuh belas. Madura menempati sejarah istimewa. Dan sejak itu pula kekuasaan Kompeni tertanamlah atas Kerajaan Mataram dan seluruh tanah Jawa, sampai timbul beberapa pemberontakan lagi, baik di Jawa Barat (Pangeran Purbaya, Kiyahi Topo) atau di Jawa Timur (Surapati). Dan sejak itu pula bekerja keraslah para “pujangga” membuat sanjak dan gending, mengejek menghina Ulama, mengolok-olok serbannya. Belanda pun kerja keras pula memupuk perasaan demikian, sehingga timbul kata “Mutihan” dan “Ngabangan”.

Karena di daerah ke rajaan, Ulama merasa hanya jadi ejekan, mereka pun mengungsi ke Jawa Timur atau ke Madura. Di sebelah Jawa Timur dan Madura lebih banyak berdiri pondok-pondok tempat santri belajar. Dan orang-orang Arab pun dilarang masuk ke Surakarta beberapa waktu lamanya. Sejarah berjalan terus. Meskipun telah diusahakan membuat Islam menjadi agama yang hanya  untuk dilagakkan, bukan untuk dijadikan dasar hidup yang sejati, namun pelopor penegakan Kerajaan Islam, dan yang kembali memakai pakaian yang dahulu diejek, yaitu jubah dan serban, rambut panjang dicukur dan dipakai kopiah putih, dengan keris tersisip di pinggang dan tasbih di tangan bersama pedang, ialah putera keturunan Amangkurat dan Sultan Agung jua. Pangeran Amiril Mukminin Abdul Hamid Diponegoro! Dibantu oleh Kiyahi Mojo . Kiyahi lagi!

Betapapun jua Islam diperbuat di Jawa Tengah namun kebangkitan perjuangan Islam secara baru, dimulai oleh seorang anak bangsawan. Dari pihak ibu dia keturunan Susuhunan Solo sendiri, dan dari pihak bapak dia keturunan Kiyahi. Itulah Raden Omar Said Cokroaminoto. Dan kebangkitan yang lain dari segi agama, timbul dari Jawa Tengah juga dari kalangan “Abdidalam” Kerajaan Yogyakarta, yaitu Kiyahi H. A. Dahlan, pendiri Muhammadiyah! Itulah satu Mu’jizat dari Islam! Bagaimanapun dia dihalangi dan dicoba dihancurkan, kadang-kadang keturunan dari yang menghalanginya itu tegak menjadi pembela daripada apa yang pernah dihalangi oleh nenek-moyangnya. Kerajaan Moghul yang menyemarakkan Islam di India dan sanggup suatu waktu mempersatukan seluruh India di bawah bendera Islam, ada lah keturunan daripada Jengis Khan dan Houlako Khan yang pernah mencoba menghancurkan kemegahan Islam di Baghdad!.

Sumber: dari karya Buya Hamka yang berjudul “Dari Perbendaharaan Lama

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s