Bisa Jadi Kita Saja Yang Merasa Sebagai Seorang Muslim, Ternyata Allah Tidak Lagi Mengakui

“Mungkin kita saja yang merasa sebagai seorang muslim, bisa jadi di akhirat kelak Allah tidak lagi menganggap kita sebagai seorang muslim akibat keengganan kita mengikuti apa-apa yang telah perintahkan Allah swt.”

Al-Qur'an, Sebagai penunjuk jalan seorang Muslim

Sebagai seorang muslim menjalankan hidup sesuai yang digariskan Allah adalah suatu kewajiban. Itu konsekuensi dari syahadat yang telah diucapkan, bahwa pengakuan sebagai seorang muslim tidak hanya sebatas kata saja, tapi juga tindakan. Maka dari itulah makna dari dua kalimat syahadat tidak hanya sekedar Iqrar (pernyataan) melainkan juga mengandung sumpah untuk menanggung semua konsekuensi keimanan dan janji setia untuk mendengar dan taat kepada Allah swt.

Di dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak sedikit kita temukan orang-orang yang telah melalaikan syahadatnya, lalai terhadap kewajibannya sebagai seorang muslim. Di Negara kita ini misalnya, sebagai Negara muslim terbesar di dunia, berapa banyak di antaranya yang benar menjalankan keislamannya dengan baik? Tidak perlu melihat terlalu jauh, lihat lah disekitar kita saja, dan mungkin bisa jadi itu salah satu orangnya adalah kita. Na’udzubillah.

Begitu mudah kita jumpai seorang muslim yang melalaikan sholatnya bahkan tidak sholat sama sekali. Sangat mudah kita temukan para muslimah  yang tidak lagi menutupi auratnya dengan rapi, bahkan dengan entengnya berjalan dengan celana pendek dan kaos tipis. Begitu sering kita mendengarkan pemberitaan kedurhakaan seorang anak. Kedurhakaan seorang istri kepada suami. Selingkuh, pergaulan bebas dan semacamnya.

Tak sedikit pula kita temui seorang muslim yang telah jatuh kehidupannya dalam perkara syirik. Percaya dengan ramalan bintang, meski katanya “hanya sekedar baca dan pengen tahu saja”. Ketika dia baca ramalan bintangnya “Hubungan mu yang dulu renggang, sekarang mulai membaik kembali” ia malah nyegir, ketawa tipis, begitu bahagianya, seakan-akan baru dapat hoki. Padahal melihat dan meyakini sebuah ramalan adalah sebuah dosa besar, dan itu akan berdampak pada syahadat yang telah diucapkannya. Jika syahadat telah batal, maka bertanyalah pada diri, apakah kita masih seorang muslim? Bisa jadi kita saja yang merasa sebagai seorang muslim, ternyata Allah tidak lagi mengakui.

Begitu juga percaya dengan benda-benda atau tempat-tempat yang dianggap keramat, bertuah katanya. Meminta kepada selain Allah. Atau mungkin menyembah kepada selain Allah dengan maksud agar sesembahannya itu akan mengantarkan doanya kepada Allah swt. inilah sebuah dosa yang teramat besar dan pelakunya sesungguhnya sudah tidak muslim lagi karena secara tidak lansung syahadatnya telah batal.

Selain itu ada juga yang menjatuhkan diri pada perkara riddah (kemurtadan) yang lain seperti: membenci sesuatu yang ada dalam Islam, misalnya: tidak suka dengan ditegakkannya syari’at Islam, tidak suka dengan ekonomi Islam, tidak suka berjilbab, padahal dia muslim.  Memperlok-olok agama Islam atau memberitakan sesuatu yang menjelek-jelekkan Islam. Mentertawakan ajaran dan syiar Islam, termasuk dalam hal ini adalah mengejek pakaian muslimah yang dikatakannya terlalu longgar sehingga mirip tenda atau karung.

Mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan sebaliknya. Mengajak orang hanya untuk beriman kepada Al-qur’an saja lalu mengingkari sunnah. Mengejek atau mentertawakan salah satu perbuatan Rasulullah saw, seperti banyak Istri misalnya. Menyakini bahwa Allah itu menyatu dengan makhluknya. Dan menyeru kepada paham-paham yang bertentangan dengan Islam. Dan sebagainya.

Ternyata masih banyak yang awam mengenai masalah aqidah dan menyepelekannya. Padahal perkara aqidah adalah perkara yang sangat besar yang menentukan posisi kita di mata Allah swt.

Selain masalah Aqidah, tidak sedikit juga kita menjumpai seorang muslim yang lalai terhadap masalah syariah dan muamalah. Tidak berakhlak islami, menyia-nyiakan waktu dan kehidupan. Dan sebagainya seperti yang telah kita sebutkan di atas.

Dan meski telah begitu, ternyata kita masih saja merasa enjoy menjalani hidup, merasa tidak akan terjadi apa-apa di akhirat kelak. Merasa umur masih panjang sehingga merasa masih ada waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri nantinya. Bahkan ada juga yang keimanannya kepada Allah telah luntur tapi masih juga merasa enjoy bin happy dalam menjalani hidup. Astgfirullahal ‘adzim.

Saudaraku, tulisan ini ditulis bukanlah untuk menghakimi atau menjustifikasi. Saya hanya ingin menyentak kesadaran kita akan tujuan hidup yang sebenarnya dan tidak terlena dengan kehidupan dunia yang semetara. Jika kalian mau merenungi kehidupan ini maka jawaban kita akan sama dengan jawaban Allah swt. bahwa tidaklah diciptakan Jin dan Manusia melainkan hanya untuk  mengabdi  kepada Allah swt.(Az-Zariat: 56)

Akhir kata saya mengutipkan sebuah pernyataan seorang ulama bahwa,

“Di atas dunia ini kita bisa menghindar dari kewajiban-kewajiban kita sebagai makhluk ciptaan Allah swt. Tapi ketahuilah, di akhirat kelak kita tidak akan bisa menghindar dari hisap dan pertanggung jawaban kepada Allah swt.”

Saudaraku…

Mungkin kita saja yang merasa sebagai seorang muslim, bisa jadi di akhirat kelak Allah tidak lagi menganggap kita sebagai seorang muslim akibat keengganan kita mengikuti apa-apa yang telah perintahkan Allah swt.

Mari instrosepeksi diri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s