Kenapa Harus Mengundang Tokoh JIL?

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke toko buku Al-Fahmu di daerah lubuk lintah dekat IAIN Imam Bonjol Padang. Saya ke sana berniat membeli buku sekaligus bersilahturrahim dengan pemilik tokonya yang merupakan alumni dari UKM FSI Nurul Jannah Universitas Bung Hatta.

Sesampai di sana, saya dan Bang ad (pemilik toko) lansung bersalaman dan saling menanyakan kabar. Sambil melihat-lihat buku yang terpajang dengan rapi kami berbincang-bincang, kebetulan dalam perbincangan itu beliau menawarkan buku “Wajah Peradaban Barat” karya Ust. Adian Husain untuk dibaca. Sebuah buku yang mengkritik habis pemikiran barat yang tak sesuai dengan moral dan kehidupan normal manusia.

Kebetulan saat itu dan sampai sekarang, lagi hangat-hangatnya gerakan #IndonesiaTanpaJIL, sebuah gerakan yang menolak pemikiran liberal di Indonesia apalagi liberalisasi terhadap agama. Dan saya adalah salah satu orang yang terlibat dalam aksi ini melalui kaos #IndoneiaTanpaJIL.

Setelah panjang lebar kami berbincang mengenai pemikiran liberal, sampailah perbincangan kami pada pengundangan tokoh JIL dalam sebuah acara, bahkan menjadikannya pembicara utama. Konon katanya IAIN Imam Bonjol juga pernah mengundang tokoh-tokoh JIL dalam acara.

Saya tidak heran akan hal ini, karena di beberapa media saya juga pernah membaca berita tokoh JIL mengisi acara di kampus-kampus berlatar belakang agama Islam, bahkan ada beberapa kampus yang dosen bahkan profesornya tokoh JIL tulen seperti Prof. Amidah Mulia guru besar UIN Syarif Hidayatullah yang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial dan mengaduk-ngaduk ajaran Islam, seperti: pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh menikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. padahal dia sendiri muslim, tapi Karena pandangannya liberal, jadi gitu dech, semuanya menjadi ganjil.

Yang ingin saya kemukakan dalam tulisan ini adalah, kenapa kita masih mau mengundang tokoh JIL dalam sebuah acara, bahkan menjadikannya pembicara utama? Pertanyaan ini termasuk untuk kampus-kampus agama Islam. Apakah karena tidak tahu atau memang benar-benar tidak peduli?

Seharusnya mereka yang mengaduk-ngaduk agama, bahkan sampai ke masalah aqidah tidak diberikan tempat dalam sebuah kegiatan, kecuali untuk tujuan meluruskan pandangan mereka menjadi benar seperti yang di ajarkan Islam yang sebenarnya.

Memberikan mereka ruang bahkan mimbar sama dengan menjadi kaki tangan mereka dalam menyebarkan kebathilan dan kesesatan mereka meskipun anda tidak bermaksud demikian.

Saya berharap ke depannya kampus-kampus Islami dan umum bisa mengenali mana tokoh-tokoh intelektual yang layak untuk di undang  untuk memberikan ilmu dan ceramah. Ini demi masa depan generasi, demi masa depan bangsa. Jika kita tidak peduli, lalu siapa lagi yang akan bertindak? Jangan biarkan orang liberal mengobok-ngobok ibu pertiwi ini apalagi merusak agama Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s