Tsawabit Amal Islami Menurut Al-Banna (Bag. 11)

Menyuguhkan tema yang tepat sesuai kebutuhan mereka

Strategi Dakwah

Masjid bukanlah satu-satunya tempat yang lebih tepat atau sesuai untuk menyampaikan dakwah kepada manusia. Karena kadang masjid menjadi ajang perseteruan antar kelompok dan madzhab. Sehingga kadang seseorang pembicara tidak memperhatikan apakah yang disampaikan diterima atau tidak, namun lebih pada mengedepankan afiliasinya kepada partai atau madzhab.

Dalam kondisi demikian, berbicara dan berdakwah di masjid tidak lebih efektif, (Al-Muadzakkirat;62).

Di samping itu kadang masjid hanya di isi oleh generasi tua, padahal seorang da’i ingin berkomunikasi dengan anak muda. Padahal anak muda banyak dijumpai di kedai kopi, (Abdul Halim;66).

Tidak benar jika ada orang yang menduga bahwa mereka yang berada di kedai kopi itu orang yang paling jauh dari kesiapan mendengarkan pesan-pesan kebaikan. Bahkan mereka lebih siap menerima pesan-pesan tersebut, (Al-Mudzakkirat;46)

وليس الداعية بالضرورة هو الإنسان الذي جمع قسماً وافياً من العلوم الشرعية حتى أصبح قادراً على الفتيا، بل كل إنسان فهم الدعوة وتحمس لها يمكن أن يكون داعية في محيطه، وإن كان لا يحسن أكثر من مبادئ القراءة والكتابة (1).

Seorang da’i tidak harus memiliki kafa’ah syar’iyyah sehingga mampu menjawab pertanyaan hukum atau memberi fatwa. Akan tetapi setiap manusia yang paham dakwah dan bersemangat berdakwah memungkinkan dirinya menjadi da’i di lingkungannya, meskipun ia belum baik dalam ketrampilan membaca dan menulis, (Abdul Halim;249-250).

Materi atau Konten Dakwah

تختلف المادة الدعوية التي يقدمها الأخ للناس باختلاف حالة المدعوين. فبالنسبة لجمهور المقاهي ومن في حكمهم، فإن الداعية يقدم له وعظاً عاماً: تذكيراً بالله واليوم الآخر، وترغيباً وترهيباً، فلا يعرض لتجريح أو تعنيف,

Konten dakwah yang disampaikan oleh al-akh kepada manusia berbeda-beda tergantung objek dakwah. Contoh konten dakwah di segmen kedai kopi dan semisalnya, maka seorang da’i menyampaikan konten dakwahnya berupa mauizhah umum; mengingatkan kepada Allah dan hari akhir, memotivasi dan memberi peringatan, jangan sampai terjebak pada menilai negatif atau memfonis.

Hendaknya ia berusaha untuk bisa memberi kesan yang mendalam, lewat pendekatan atau metode yang mudah, menarik dan membuat penasaran, kalau perlu diselingi bahasa pasaran,  dibumbui cerita, tamsil dan berusaha untuk tetap memberi kesan yang mendalam. Tetap berusaha untuk mengambil hati mereka karena dorongan kecintaan dan kerinduan terhadap apa yang ia ungkapkan.

Setelah itu, ia tidak berpanjang kalam yang membuat pendengar bosan. Bahkan cukup baginya untuk menyampaikan pesan atau kajian rentang waktu sepuluh menit, jika dibutuhkan panjang sedikit, maka cukuplah lima belas menit, dengan tetap memperhatikan pesan khusus yang ingin ia sampaikan dan tetap memperhatikan kesan di hati pendengar.

Jika seorang da’i menyampaikan ayat atau hadits hendaknya ia memilih dengan tepat, membacanya dengan khusyu’, menghindari penafsiran istilah dan komentar seni, cukup baginya menyampaikan makna secara umum dan menjelaskan inti sari yang dimaksud, (Al-Mudzakkirat;62)

وبالنسبة للعوام حديثي العهد بالتعبد، فعلى الداعية أن يسلك بهم مسلكاً عملياً بحتاً، فلا يعمد إلى العبارات يلقيها، أو الأحكام المجردة يرددها، بل إذا أراد تعليمهم الوضوء مثلاً عمد إلى أخذهم إلى الحنفيات تواً، فصفهم صفاً، ووقف فيهم موقف المرشد إلى الأعمال عملاً عملاً، حتى يتموا وضوءهم.

Jika objek dakwah orang awam yang baru belajar ibadah, maka seorang da’i hendaknya mengajarkan praktek ibadah yang dimaksud, tidak perlu memperpanjang penyampaian, atau mengulang-ulang hukumnya. Jika ia ingin mengajarkan mereka tata cara berwudhu misalkan, hendaknya ia mengajak mereka ke tempat wudhu, kemudian mempraktekkan tata cara wudhu di depan mereka dan meminta mereka menirukan satu persatu.

Jika ia ingin mengajarkan ibadah shalat, maka hendaknya ia menjelaskan gerakan shalat dan mempraktekkan di depan mereka, dengan disertai penyampaian fadhilah shalat dan bahaya meninggalkannya. Juga perlu meminta mereka untuk membaca surat Al-Fatihah dengan keras dan juga membenarkan hafalan surat pendek mereka, dengan menjauhi komentar-komentar yang tidak diperlukan, (Al-Mudzakkirat;63-64).

وبالنسبة لجمهور المسجد فليس الغرض من الحديث إليه إعطاءه دراسة معمقة في العلوم الإسلامية، فذلك مجاله غير هذا. وإنما القصد تعليم أصول الدين وقواعده، والعمل بأخلاقه وفضائله العامة وإرشاداته المجمع عليها، وتأدية الفرائض والسنن.

Jika menghadapi jamaah yang berada di masjid, maka target dari mengajari mereka bukan dalam bentuk kajian ilmu-ilmu Islam secara mendalam, ini tidak tepat. Yang efektif adalah mengajarkan mereka prinsip-prinsip agama, beramal dalam bentuk akhlak yang baik, melaksanakan fadhilahnya, mengarahkan sesuai pendapat yang sudah disepakati, menjalankan yang wajib dan yang sunnah.

فعلى الداعية أن يتجنب الخلافيات التي لا جدوى من البحث فيها (1). ويحسن به أثناء تدريسه عدم التضييق على رأي واحد إذا كان في الدين فسحة، بل يبين أقوال المجتهدين إذا كانت المسألة تحتمل وجوهاً عدة (2).

Seorang da’i hendaknya menjauhi khilafiyah yang tidak ada manfaat jika membahasnya, (Al-Mudzakkirat;64-66). Menyampaikan dengan pendekatan yang baik, yaitu dengan tidak mempersempit atau mempersulit dengan satu pendapat saja, padahal dalam beragama itu ada kelonggaran, mungkin juga mengutarakan pendapat para imam mujtahid jika permasalahan itu mengandung beberapa pendapat, (Al-Mudzakkirat;106-107).

Berbicara kepada manusia di masjid kadang tidak cukup menyampaikan pelajaran dan khutbah. Kadang jamaah menginginkan penyampaian fikrah atau penyikapan tertentu terkait suatu masalah, hal ini bisa disampaikan dengan singkat, tidak lebih dari dua menit, disampaikan setelah shalat Jum’at misalkan atau waktu yang lain, (Abdul Halim;91-92).

أما بالنسبة للمثقفين – والطلاب خاصة – فإن المادة التي يجب أن تقدم لهم هي رأي الجماعة في كل ما يجري على الساحة ويكون موضع اهتمام الناس، وسط آراء الهيئات والأحزاب المختلفة، ومقارعة الحجة بالحجة (4).

Jika objek dakwah dari kalangan intelektual dan mahasiswa, maka konten yang hendaknya disampaikan kepada mereka adalah pemikiran atau pendapat Jamaah seputar permasalahan aktual yang menjadi perhatian publik, di tengah pendapat lembaga atau partai yang beragam dan menyampaikannya dengan argumentasi yang kuat, (Abdul Halim;124-126).

ونشير في ختام هذه الفقرة إلى أنه على الأخ الداعية أن يدرس البيئة التي يتحرك فيها (5)، وأن يحسن تحضير الموضوع الذي ينبغي الحديث فيه (6).

Dalam penutup bab ini perlu kami sampaikan kepada al-akh, juru dakwah hendaknya mereka mengkaji lingkungan tempat ia bergerak di dalamnya, (Al-Mudzakkirat;61-62) sehingga ia mampu menyuguhkan tema yang tepat sesuai kebutuhan mereka, (Al-Mudzakkirat;46) bersambung…

Sumber: Al-Ikhwan.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s