Kisah Inspiratif: “Pak Tua yang Bijak dan Segenggam Garam”

Dahulu kala hiduplah seorang lelalki tua yang terkenal shaleh dan bijak. Disuatu pagi yang dingin datanglah seorang lelaki muda dari kampus ternama di Indonesia yang tengah dirundung masalah. Dengan langkah gontai dan rambut kusut masai, ia seperti orang yang tidak mengenal bahagia. Tanpa buang waktu ia tumpahkan semua keresahannya. Impiannya yang gagal, karir, cinta dan hidupnya yang tidak pernah berakhir dengan bahagia.

Bapak tua yang bijak itu hanya mendengarkannya, dengan teliti dan seksama, tanpa berkata apa-apa. Ia hanya mengambil segenggam garam dan memasukkannya ke dalam segelas air, lalu mengaduknya dan berkata,

“Coba minum ini dan katakana bagaimana rasanya?”

Anak muda itupun meminum air yang diberi garam oleh bapak tua itu tadi.

“Haah..! Cueh..ueh..!! Asin sekali, nggak enak Pak!!” jawab pemuda tersebut.

Pak tua itu hanya tersenyum dan mengajak tamunya berjalan ketepi telaga yang ada di dalam hutan tempat tinggalnya. Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh. Akhirnya sampailah mereka di tepi telaga yang tenang. Masih dengan mata yang tenang dan penuh dengan cinta. Orang tua yang bijaksana itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga, dengan sepotong kayu, di aduknya air telaga yang membuat gelombang dan riak kecil. setelah air telaga tenang, ia pun berkata,

“Anak muda coba kamu cicipi air telaga tersebut dan minumlah.”

Saat anak muda itu selesai meneguk air telaga, Pak tua itu berkata lagi,

“Bagaimana rasanya?”

“Hemm…ini baru segar sekali rasa airnya Pak” jawab lelaki tersebut.

“Dan apakah kamu masih merasakan garam dalam air tersebut?” tanya Pak tua lagi.

“Emm…sepertinya tidak, sedikitpun tidak ada rasa asin” Jawab si anak muda.

Mendengar jawaban anak muda itu, Pak tua menepuk punggung si anak muda, ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh ditepi telaga, dan berkata,

“Anak muda, pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam, tidak lebih dan tidak berkurang, jumlah dan rasa pahit itu akan tetap sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahaitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu selalu berasal dari bagaimana kita meletakan segalanya, dan itu tergantung dari hati kita. jadi saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan hidup.

Hanya satu hal yang boleh kita lakukan, lapangkanlah dada untuk menerima semuanya, luaskan hati untuk menampung semua kepahitan tersbut. Luaskan wadah pergaulan supaya kita memiliki pandangan hidup yang luas. Maka kita akan banyak belajar dari kele-luas-an tersebut. Hati adalah wadah itu, perasaan adalah tempat itu, qalbu adalah tempat menampung segalannya.

Jadi, jangan jadikan hati seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam semua kepahitan itu dan mangubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”1

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas dan membantu kita dalam menghadapi dan memahami kehidupan yang semakin pelik ini. Mari selalu mendekatkan diri kepada Yang Maha Pemberi kelapangan hati.

***

1Kisah dikutip dari buku “Terlanjur Jadi Mahasiswa Mesti GILA” karya Asrul Fauzi.

One thought on “Kisah Inspiratif: “Pak Tua yang Bijak dan Segenggam Garam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s