Tsawabit Amal Islami Menurut Imam Al-Banna (Bag. 3)

Sirriyah wa alaniyyah

‘Alaniyatud Dakwah (Keterbukaan Dakwah)

Dakwah kami aslinya adalah terbuka, sebagaimana tabiat dakwah secara umum adalah terbuka. Kami senang membuka tujuan kami kepada umat manusia. Kami senang menjadikan manhaj kami terang-benderang di hadapan mereka. Kami tujukan dakwah kami untuk mereka, tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi dan dirahasiakan, oleh karena itu dakwah kami lebih jelas dibandingkan merekahnya waktu pagi dan lebih terang dibandingkan waktu awal siang hari, (Dakwatuna; Ar-Rasail;1/11 atau Ar-Rasail;2/13).

Gambaran ini tidak terbatas pada dakwah kepada ajaran Islam semata, tapi juga dakwah kepada Jamaah ini, oleh karena itu hendaknya pintu tetap selalu terbuka bagi yang mau bergabung atau yang mau mengundurkan diri sekalipun. Aktivitas-aktivitas Jamaah wajib terbuka dan ekslusif, tidak ada rahasia atau yang perlu ditutup-tutupi, (Hal Nahnu Qoumun Amaliyyun: Ar-Rasail;2/62), termasuk kerada para mad’u di awal bergabungnya mereka. Wajib bagi mereka unutk mengetahui bahwa mereka diajak untuk masuk ke Jamaah tertentu, yang memiliki tujuan yang jelas, (Al-Mudzakkirat;95-96).

Sirriyatut Tanzhim

Meski aslinya dakwah itu terbuka, bukan berarti tahapan dan strategi dakwah diungkap sedari awal mula, yang menyebabkan musuh waspada. Bahkan wajib untuk tidak tergesa-gesa dalam membuka suatu masalah atau suatu perkara yang mempengaruhi musuh sebelum waktunya, (Abdul Halim;84).

Kondisi-Kondisi Pengecualian

Terkadang suatu negara memiliki kondisi pengecualian, seperti penggunaan hukum-hukum tertentu, jika Jamaah melihat tidak memungkinkan untuk menghadapinya atau menjalankan dakwah secara terbuka, maka ada dua kemungkinan; pertama Jamaah melonggarkan aktivitas dakwah dan organisasinya, kedua Jamaah melikuidasi atau membekukan sebagian aktivitas yang sebelumnya sudah dilaksanakan dalam kondisi normal, (Abdul Halim;220).

Terkadang juga suatu negara menghadapi kondisi yang sangat sulit sekali, di mana tidak memungkinkan bekerja secara terbuka, oleh karena itu Jamaah menerapkan strategi kerja bawah tanah atau rahasia. Ini dilakukan dalam rangka;

  1. Menjaga personal dakwah dari pemberangusan.
  2. Keberlanjutan aktivitas dakwah Jamaah.
  3. Menumbuhkan kreasi Jamaah dalam menggunakan kompen dan unsur baru.

Dalam kondisi seperti ini sarana yang efektif untuk digunakan adalah nizham usar –sistem usar-. Karena usrah merupakan proto-tipe terkecil dari Jamaah. Antara satu usar dengan usar lainnya dihubungkan dengan ikatan hirarki untuk mewujudkan sebagai berikut;

  1. Usrah mendapatkan taujihat dari para qiyadah lewat para naqib.
  2. Setiap usrah menjalankan semua aktivitas dakwah yang diharapkan dari Jamaah, oleh karena itu diharuskan setiap usrah memiliki kas atau dana khusus untuk menjalankan itu.
  3. Setiap usrah bekerja untuk membentuk usrah baru dengan anggota baru.

Perlu diingatkan lagi bahwa sistem ini diberlakukan untuk menghadapi kondisi serba rahasia, (Abdul Halim;256-257).

Hukum-Hukum Khusus

Memungkinan juga dalam kondisi terbuka, Jamaah menggunakan nizham usrah, untuk menutupi sisi yang tidak boleh dibuka bagi umum. Dengan model seperti ini banyak hal yang bisa dikerjakan, seperti kegiatan referendum, penyampaian qoror, atau mengurai suatu masalah atau pernyataan sikap dan lain-lain, (Abdul Halim;437).

Demikian juga dimungkinkan untuk merahasiakan keanggotaan sebagian orang, karena kondisi yang hanya diketahui oleh para qiyadah. (bersambung…)

Sumber: al-ikhwan.net

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s