Nasip Para Sarjana (Spesial Hari Sarjana Indonesia)

Sarjana Muda

Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan

Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan

Langkah kakimu terhenti
Didepan halaman sebuah jawatan

Terjenuh lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang didambakan

Tak perduli berusaha lagi
Namun kata sama kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung semakin terlihat

Engkau sarjana muda
Resah tak dapat kerja
Tak berguna ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia sia semuanya

Setengah putus asa dia berucap… maaf ibu…

Karya : Iwan Fals ( Album Sarjana Muda 1981)

Jika yang saya maksud dalam judul tulisan ini adalah para sarjana seperti yang dilagu Iwan Fals di atas, maka nasib kita tidak akan jauh berbeda dari lagu tersebut, masih muda, jaket lusuh, jalan gontai, lalu pergi mencari pekerjaan dengan hanya mengandalkan IJAZAH saja. Dan akhirnya di tolak.

Terkadang pikiran kita terlalu picik, merasa bahwa dengan kuliah, bergelut dengan buku selama empat tahun, lalu lulus mendapatkan gelar sarjana sudah menjamin kita untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup sejahtera. TIDAK! Tidak semua orang yang memiliki sisik hidup yang sebagus itu.

Belakangan ini saya sering memerhatikan hal ini. Memerhatikan nasib para sarjana yang baru saja mendapatkan gelar itu. Karena ini juga menyangkut nasib saya juga sebagai calon sarjana S1.

Apakah mereka sukses dengan hanya cukup kuliah saja atau justru menjadi pengisi daftar panjang pengangguran? Atau mungkin mendapatkan pekerjaan, namun hasilnya tidak sebanding dengan tingginya predikat sarjana yang dia sandang.

Meskipun mendapatkan pekerjaan yang layak dan gaji cukup lumayan bisa menghidupkan 1 istri dan 2 anak. Saya tetap saja merasa bahwa lulusan kita masih jauh dari kata “berdaya”. Coba kita hitung, mana yang lebih banyak yang mendaftar mencari pekerjaan, ketimbang membangun pekerjaan atau usaha sendiri lalu mempekerjakan orang lain?

Berapa banyak dari lulusan kita dari yang teknik mesin mampu membuat sebuah mesin? Adakah yang mampu membuat mobil dan motor yang dapat menyaingi produk jepang? Setahu saya kita saat ini masih ngimport, dan jikapun ada produk dalam negeri, itupun kualitasnya masih rendah. Tapi setidaknya adalah dari tidak sama sekali.

Tapi saya tahu, tidak semua orang yang kuliah di jurusan itu akan menjadi orang ahli pada jurusan itu juga, dan bekerja dan membantu bangsa dari keahliannya itu. Tapi saya ingin mengatakan bahwa kualitas lulusan sarjana kita masih rendah. Itu sebabnya pada saat ini lebih banyak pengangguran, karena sang sarjananya sendiri tak mampu berkompetisi setelah pasca kuliah nanti.

Jika demikian adanya, pasti ada yang salah dengan lulusan kita. Jika tidak segera dibenahi akan menjadi permasalahan yang melarut-larut, dan ini pastinya akan berdampak pada kehidupan social masyarakat.

Apa Solusinya?

Hal mendasar menjadi penyebab rendahnya kualitas lulusan sarjana kita dari hasil yang saya amati adalah bahwa, sebagian besa,r bisa dikatakan 90 % lebih  para mahasiswa saat ini tidak memiliki perencanaan hidup.  Kalau pun ada, itu pun sedikit, dan yang sedikit ini pun tidak menuliskannya juga, sehingga lupalah ia dengan rencana hidup atau cita-cita besarnya tadi. Saya yakin salah satunya mungkin pembaca sendiri.

Cobalah, para pembaca tanyakan kepada para mahasiswa apa cita-cita mereka? habis tamat nanti ngapain? Apakah lanjut S2 atau bekerja? Kalau bekerja, mereka bekerja apa? Cobalah tanya mereka. saya yakin mereka akan mikir dulu untuk menjawa pertanyaan anda. jika mereka masih mikir, maka itu tandanya mereka tidak mempunyai perencanaan (planning) hidup.

Permasalahan kedua adalah, tidak konsisten dalam menjalankan planning hidup atau mengejar cita-cita besarnya. Seseorang terkadang karena himpitan ekonomi, dapat merubah haluannya, dapat meninggalkan cita-cita yang pernah diidam-idamkannya. Sangat jarang kita menemukan orang yang sudah punya pekerjaan yang lain dari yang dicita-citakannya bakal tetap mengejar cita-citanya sambil bekerja.

Saya tidak mengatakan mengambil peluang lain salah, tidak. Tapi sangat disayangkan jika cita-cita kita hilang karena sudah mendapatkan pekerjaan lain, apalagi cita-cita kita itu menyangkut dan dibutuhkan bagi bangsa kita ke depannya. Sangat disayangkan sekali.

Permasalahan yang ketiga adalah, setelah tidak adanya planning dan tidak konsisten, para mahasiswa pada saat ini sangat jarang mau meningkatkan dan mengembangkan kualitas diri. Saya yakin pembaca semuanya sering bertemu teman yang mana dari tahun ke tahun kemampuannya segitu, tidak berkembang dan tidak semakin berkualitas. Dan bisa jadi orannya itu juga kita.

Saya bertanya, untuk menjadi guru saja apakah kita hanya butuh menguasai materi saja atau harus memiliki kemampuan lain? Berapa banyak para guru hari ini yang memiliki kemampuan mendidik ketimbang kemampuan sekedar mengajar? Terkadang guru pun menjadi factor rusaknya moral dan mental generasi penerus. Dapat saya sebutkan, bahwa kebanyakan guru saat ini tidak memiliki PESONA JIWA. Mereka hanya pintar otak saja, tapi tidak pintar mendidik muridnya. Makanya saya mengusulkan kepada Pak Mentri Pendidikan, agar tidak hanya meluncurkan pendidikan berkarakter untuk siswa saja, tapi juga untuk para guru, agar muncul pesona jiwanya. Cerdas, disenangi, dan pandai dalam mengajar generasi penerus.

Yang terakhir adalah bahwa seringnya para mahasiswa atau generasi muda kita yang terjebak dalam kehidupan yang hura-hura dan sia-sia. Terjebak dalam ikut-ikutan mode atau trend yang tak tentu arah dan selalu berubah-rubah.

Saya mau bertanya lagi. Seberapa banyak dari kita yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar? Berapa banyak dari kita yang menggunakan sebagian waktunya untuk mengembangkan kemampuan diri dalam berorganisasi atau bermasyarakat? Mana yang lebih banyak waktu yang kita gunakan untuk mengejar cita-cita dari pada bermain, duduk, tidur, dan nongkrong di mall? Sudah berapa banyak buku yang sudah kita baca untuk menunjang cita-cita kita? apa keahlian yang sudah kita miliki saat ini? Seberapa banyak dari kita yang peduli akan nasib orang lain?

Saya, tidak mengatakan bahwa hidup itu tidak membutuhkan hiburan. Tapi apakah terlalu berlebih-lebihan dalam hiburan itu baik? Saya rasa pembaca semuanya mengetahui itu.

Beitulah, saya berharap kedepannya para lulusan sarjana kita lebih berkualitas, bermutu dan berguna. Semoga Nasip Para Sarjana tidak lagi suram, jaketnya rapi, langkahnya tegap tidak gontai. Terlihat pancaran kesuksesan dan kesiapan menghadapi tantangan hidup dari wajahnya. Dan untuk membangun bangsa ini kita butuh orang-orang yang seperti itu.

Notes: Tulisan ini spesial hari Sarjana Indonesia 29 September 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s