Mengenang Gempa 30 September 2009

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dasyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsia mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

(Al-Zalzalah [99]: 1-8)

Masih teringat jelas dalam ingatan kita tragedi waktu itu dan mungkin goncangannya masih bisa kita rasakan dalam ingatan kita. Begitu dasyat dan hebat goncangan itu, di  bulan september.

Sore itu, rabu 30 September 2009, saya dan teman-teman, sedang rapat evaluasi penyambutan Maba 2009 Universitas Bung Hatta. Sebuah kampus yang letaknya di tepi pantai. Tiba-tiba terasa guncangan dan kami berlari keluar, guncangan itu pun semakin kuat sehingga membuat kami tak mampu berdiri. Rasanya takut sekali hari itu, memori tsunami Aceh 2004 segera menghantui di benak, mungkin juga dibenak semua orang. Sehingga semuanya berlarian menjauhi tepi pantai kota padang.

Seakan-akan seperti kiamat, semua orang sepertinya sudah tidak saling peduli. Mereka hanya peduli akan diri mereka sendiri. Kecemasan dan ketakutan karena gempa dan ancaman tsunami melanda mereka.

Saya masih ingat moment ini. karena sesudah gempa berhenti, saya menyempatkan diri dulu mencek keadaan sekitar dan setelah itu lansung cabut. Di tengah-tengah perjalanan, seorang nenek meminta tolong kepada saya untuk memindahkan televisinya ke atas kasur. Saya sempat berfikir sejenak, mungkin karena rasa takut, jika-jika tsunami datang, apalagi keadaan disekeliling sangat sepi sekali. Semunya sudah pada pergi.

Akhirnya saya putuskan untuk membantu nenek tersebut memindahkan televisinya ke kasur. Saya melihat nenek ini sepertinya sudah pasrah dengan keadaan, tidak ada sepertinya niat darinya untuk pergi menjauh dari pantai. Padahal pukul menunjukkan 11 menit pasca gempa, itu berarti menit darurat tsunami masih ada. Kondisi sudah bisa dikatakan aman tsunami jika waktu sudah menunjukkan lebih dari 20 menit dari pasca gempa.

Selesai menolong nenek tersebut, saya lansung cabut lagi. Nenek itu tidak ikut katanya. Di perjalanan saya bertemu lagi dengan moment yang sampai saat ini jika saya mengingatnya selalu membuat bulu kuduk saya berdiri. Seorang nenek dengan suara hampir mau menangis berteriak-teriak mencari cucunya yang entah berada dimana. Nenek itu terus berjalan sambil memanggil-manggil cucunya, dan saya pun tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada orang lain di sekeliling saya, semuanya sudah pada lari, hanya tinggal saya dan si nenek. Jika pembaca semuanya mendengarkan suara nenek itu, pasti pembaca semuanya akan dibikin merinding, bahkan bisa menangis. Saya pada saat itu hampir saja menangis.

Entalah, apa yang terjadi, saya berada dipersimpangan jalan, antara ingin membantu atau lanjutkan perjalanan. Masalahnya saat itu masih dalam keadaan darurat Tsunami, peringatan masih belum dicabut. Dan akhirnya saya memilih melanjutkan perjalanan dengan hati yang galau, bingung, kasihan, kalut dan takut. Semuanya bercampur menjadi satu. Saya berdoa kepada Allah swt. semoga tidak ada tsunami.

Sampai di jalanan besar, saya baru menemukan banyak orang. Semuanya berlari menjauhi laut. Keadaan pada saat itu sangat kacau. Dan tak terbayangkan lagi bagaimana keadaan hari kiamat nanti jika pada saat terjadi gempa saja semua manusia seperti itu?

Saya teruskan perjalanan, berjalan cepat, dan sesekali berlari. Saya melirik ke jam, waktu sudah menunjukkan lebih 20 menit darurat tsunami. Dan Alhamdulillah tidak ada tsunami. Saya tidak lansung pulang karena rumah saya yang sangat jauh dan kendaraan pun tidak ada. Angkot pun tidak beroperasi. Dan kesempatan ini saya gunakan untuk membantu korban gempa. Waktu itu saya dengan masyarakat lainnya membantu salah seorag yang terjepit di dalam mobil akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Dan malamnya saya menunggu pagi di mesjid dekat simpang tinju. Pada sholat magrib, sang Imam membacakan surat Al-Zalzalah di atas. Yang membuat buluk kuduk kembali merinding..

Dan malam pun berlalu, saya tidak bisa tertidur karena peristiwa tersebut.

Kawan, ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat saya petik dari peritiwa gempa 30 September 2009 ini. Gempa tersebut secara telanjang memperlihatkan kepada kita bahwa kita manusia sangat lemah, sangat sangat sangat lemah sekali. Saya ulangi sekali lagi, sangat sangat sangat lemah sekali. Kepongahan, kesombongan kita pada saat itu lansung luntur. Semuanya berlari menyelamatkan diri sampil menyebut Asma Allah.

Apa yang bisa diperbuat manusia jika gempa datang dan reruntuhan menimpa mereka? Apa yang bisa diperbuat manusia jika tsunami datang menyapu semuanya? Saya bertanya! Apa yang bisa diperbuat manusia? Tidak ada yang bisa kita perbuat. Yang bisa kita perbuat adalah: menangis, diam, membisu dan meronta.

Dan ternyata tidak ada satupun yang mampu menghentikan gempa dan tsunami kecuali Allah swt. dan masyarakat Sumatera Barat, terutama masyarakat Padang harus bersyukur akan itu, karena Allah tidak mendatangkan tsunami setelah gempa.

Dan akhirnya, kita perlu mengingat dan merenungi ini. Bahwa kematian itu pasti datang kepada kita. Suatu hal yang niscaya dan pasti akan menghampiri semua manusia. Dia tidak datang pada saat-saat bencana saja, tapi juga pada saat kita senang dan sehat sekalipun.

Semoga peristiwa gempa 30 september 2009 yang lalu membuat kita semakin sadar bahwa kita harus kembali kepada Allah swt. menjalankan segala perintahnya, karena tidak ada yang dapat menjamin keselamatan kita di akhirat nanti selain Allah. Dan tentu jaminan itu hanya akan diberikan Allah jika kita beribadah menyembah kepada-Nya dan melakukan amalan-amalan kebaikan lainnya.

Mengenang gempa 30 september… saya tidak bisa melupakan peristiwa itu, semoga kita semakin sadar siapa kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s