Kenapa Saya Berislam?

Mungkin bagi sebahagian orang ini adalah pertanyaan remeh. Dan mungkin berfikir buat apa saya mempertanyakan itu.

Saya mau bercerita, sejak kecil saya menganut agama Islam, karena orang tua dan keluarga saya seluruhnya beragama Islam. Jadi otomatis Islam menjadi agama saya. Dan tentu saya bersyukur akan nikmat ini, karena tidak semua manusia mendapatkan nikmat ini.

Namun ketika beranjak dewasa (baligh) saya menjalankan aktifitas kehidupan saya dengan biasa, jauh dari kesan agama, apalagi paham agama yang saya anut. Saya tidak pernah sadar kenapa saya berislam, dan juga tidak pernah bertanya kenapa saya berislam. Yang saya tahu bahwa Islam itu adalah agama yang benar dan pelajaran itu saya dapatkan dari sekolah dan lingkungan. Tapi tetap saja hati saya tidak ngadep dengan Islam. Sholat saya bolong, Puasa ramadhan pernah dibatalin diam-diam. Pacaran, dan pokoknya banyak dech..hal-hal yang tidak sesuai dengan Islam saya lakukan.

Dan satu lagi setiap sholat saya selalu main-main meski tampak khusyuk oleh orang-orang. Pikiran saya terbang entah kemana. Kalau orang tidak ada, saya lansung mencuri sholat. Sholat dengan gaya cotok ayam. Hah! masa pertumbuhan yang mengesankan, namun negative!

Saya baru menyadari keislaman saya setalah masuk kuliah, sekitar 3 tahun yang lalu. saya baru bertanya secara serius kenapa saya berislas. “Kenapa kamu berislam don?” -sembari saya menunjuk diri saya sendiri- dan alhamdulilah saya mendapatkan jawabannya.

Setelah itu, saya baru menyadari apa tujuan hidup saya. Untuk apa saya diciptakan. Dari mana saya berasal dan kemana saya akan kembali. Semuanya saya dapatkan setelah mengikuti aktifitas tarbiyah di kampus yang membuka hati dan pikiran saya untuk segera menyambut hidayah yang datang.

Itulah kenapa saya mengangkat judul ini. percaya atau tidak. Ada banyak orang yang berislam saat ini tidak mennyadari keberislamannya. Ada banyak dari kita saat ini terutama di Indonesia yang berislam karena faktor keturunan dan budaya bukan dari kesadaran, karena sebagian orang tua dan para guru agama di negeri ini tidak memberikan penyadaran akan ini. bahkan jika ada, itu pun tidak menyentuh. Tidak seperti murabbi saya pertama kali yang menyentuh hati saya dengan Islam. Mengajarkan kepada saya apa yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh orang tua, keluarga dan sanak family saya selama ini.

Percaya atau tidak. Tapi inilah kenyataannya masyarakat kita saat ini. Dan bisa dilihat di sekeliling kita, bahkan pada diri kita sendiri.

Maka mari bertanya kepada diri sendiri. Tunjuk diri kita sendiri. “KENAPA SAYA BERISLAM?”

Saya yakin setelah itu kita akan mencari jawabannya dan insya Allah akan mendapatkan jawabannya dengan benar, dan setelah itu kita akan mengatakan,

“…bahwa tidak ada Tuhan selain Allah…” (Ali ‘Imran: 64)

 dan menjadikan kita seorang mukmin yang sadar akan kewajibannya kepada Allah swt.

3 thoughts on “Kenapa Saya Berislam?

  1. lebih kurang cerita qt sama.. meski rasa keislaman itu datangnya agak berbeda dg yg doni ceritakan. bahkan ia pernah drop sama sekali, ketika pegangan wktu itu masih minim dan belum kokoh. alhmdulillah, aq rasa Allah bgitu baik pdku krna skarang aq merasa kembali lagi pd keislaman setelah bbrp peristiwa yg aq alami blm lama ini.

    “Kenapa saya berislam?”
    jawaban saya adalah, karena Allah.
    smg kita tetap dlm hidayah-Nya, amin..

  2. Subhanallah ..
    Benar Kawan,,
    banyak dari kita mungkin termasuk saya sendiri mengaku Islam,, akan tetapi banyak dari kita juga yang tidak tahu tentang Islam itu sendiri ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s