Jangan sampai libur melalaikan kita

Tiada ada lagi waktu bagi kita untuk beristirahat. Tugas dakwah kita terlalu banyak. Jika engkau ingin istirahat wahai pemuda, nanti….ketika engkau langkahkan kakimu di surga. (Alm. Ust. Rahmat Abdullah)

Alhamdulillah masa libur tenang kuliah telah masuk, itu kata mereka yang mendapatkan libur tenang. Kalau bagi anak teknik ini merupakan “minggu tak tenang” karena semakin berjubelnya tugas kuliah yang harus diselesaikan. Bagitu juga dengan libur kuliah sudah di depan mata, tinggal kita memasukinya dengan izin Allah swt.

Ada yang menarik dari hal ini, karena sebagian kita, ketika mendengarkan kata “Libur” maka itu artinya istirahat dan bersantai-santai, tak terkecuali juga bagi aktivis dakwah kampus. Istirahat kuliah memang tapi apakah itu berarti kita istirahat atas semuanya?

Ini pengalamanan saya dari libur-libur sebelumnya, bahkan ketika tidak libur kuliah pun jika ada waktu luang masih banyak yang saya lihat berleha-leha, walhasil waktu luang pun tidak termanfaatkan dengan baik. Apakah pembaca juga pernah merasakan dan melakukan hal itu?

 Ada-beberapa indikasi yang menyebabkan hal itu terjadi, dan itu saya dapatkan lansung dari orang yang pernah melakukannya:

  1. Karena tidak tahu harus ngapain alias “bingung”
  2. Malas alias “lemah semangat”

Alasan yang saya dapatkan begitu beragam, tapi intinya hanya dua di atas. Mari kita bahas satu-persatu.

Pertama, tidak tahu harus ngapain alias “bingung”. Ini sudah seperti penyakit. Kebingungan ternyata sudah mewabah di kebanyakan para mahasiswa. Penyebabnya hanya satu, yaitu: Tidak mempunyai Visi dan misi hidup. Ini orang menjalankan hidup apa adanya, tanpa perencanaan, pokoknya apa yang terfirkirkan saat itu, itu yang dilakukan. Kalaupun punya cita-cita, saya bisa pastikan bahwa dia sama sekali tidak berniat “cita-cita yang tidak punya ruh”. Wajar aja jadi orang bingung!!

Orang-orang yang tidak memiliki cita-cita atau keinginan yang besar bagi masa depannya (Visi) pasti akan sering mengalami hal ini. Hidupnya tidak terarah. Ketika ada waktu luang lansung “kebingungan”.  Mmm..Saya menjadi terheran-heran ketika hal ini terjadi, apalagi dikalangan aktivis.

Kedua, malas alias “lemah semangat”. Ini juga penyakit, tapi bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit mental. Penyakit malas terjadi karena tidak punya visi dan lemahnya hasrat untuk berprestasi. Dan biasanya juga terjadi akibat lingkungan yangdi sekelilingnya banyak orang-orang malas. Rasa malas akan menjadi parah ketika rasa malas selalu diperturutkan sehingga jadilah ia kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan.

Kewajiban-kewajiban kita ternyata begitu banyak

Apa kabar ibadah kita hari ini? Sudahkan benar menurut tata cara ibadah yang diajarkan Rasulullah saw.

Sudah berapa hafalan Al-Qur’an kita saat ini? sudahkah menuntaskan Juz 30?

Sudahkah kita mengkhatamkan Sirah Nabawiyah dan membaca sirah Nabi-nabi yang lain?

Sudahkah kita membaca buku fiqh-fiqh yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari dan sudahkan kita membaca buku-buku lainnya yang dapat menambah pemahaman keislaman kita?

Sekarang bagaimana dengan cita-cita atau masa depan kita? Adakah aktivitas yang kita lakukan setiap harinya mengarah kepada masa depan kita? atau mungkin selama ini kita masih main-main saja, sehingga cita-cita yang telah kita harapkan itu menjadi tidak memiliki ruh atau bahkan terlupakan.

Sahabat, ternyata kewajiban kita begitu banyak. Cobalah anda tuliskan, maka anda akan menemukan lebih banyak kewajiban dari pada yang saya tuliskan di atas. Benar apa yang dikatakan Iman Syahid Hasan Al Banna bahwa “Kewajiban-kewajiban kita lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”.

Lalu bagaimana dengan liburan nanti? Apakah saya akan menghabiskannya dengan aktivitas yang menyibukkan sementara saya butuh rileks?

Istirahatlah kawan, tapi jangan berlebihan, sebab ia dapat mematikan motivasi kita, serta mematikan kepekaan hati dan fikiran kita.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan, bahwa istirahat itu ada 2 macam:

Pertama, Istirahat yang melahirkan energy baru. Ini istirahatnya orang-orang hebat. Istirahatnya bukan dalam rangka membuang-buang waktu luang, tapi diisinya dengan aktivitas yang menyenangkan yang full manfaat. Contohnya “rihlah”

Kedua, Istirahat yang menguras energi. Ini istirahatnya orang-orang malas. Istirahatnya hanya membuatnya semakin malas dan tidak berdaya. Saban hari waktu liburnya hanya digunakan untuk tidur, melamun, main-main, nongkrong tak jelas, dsb.

Semoga masukkan dari tulisan ini bermanfaat bagi kita semuanya.

Ayo! jangan habiskan waktu kita untuk berlibur tanpa ada kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kapasitas diri dan mengarahkan kita kepada cita-cita besar kita, yaitu menjadi hamba Allah yang sukses dunia akhirat!

One thought on “Jangan sampai libur melalaikan kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s