Antara Aku dengan Mereka yang telah Melegenda

Ah.., aku malu menjadi pemuda yang hanya mampu memberikan sedikit kontribusi bagi umat ini. Dan aku lebih malu lagi jika terus-terusan menjadi beban bagi umat ini.

Betapa takjubnya saya ketika membuka kembali lembaran emas kejayaan Islam. Disederetan kegemilangan sejarah itu terdapat para pemuda yang luar biasa menakjubkan. Mereka menjadi pemimpin bagi umatnya, dan saya masih saja tetap seperti pemuda yang dulu, yang tak memberikan apa-apa kepada umat ini melainkan beban.

Betapa luar biasanya Usamah bin Zaid yang berumur  19 tahun sudah menjadi pemimpin ekspedisi militer ditengah-tengah Abu Bakar dan Umar. Harun Ar-Rasyid menjadi pemimpin 3 benua besar (Asia, Afrika dan Eropa) di usianya yang masih 22 tahun. Anaknya yang baru berumur 11 tahun sudah memimpin sepasukan di khurasan dan meraih kemenangan dalam perperangan.

Lain lagi dengan Muhammad Al-Fatih yang menakhlukan konstantinopel setelah 8 abad tak tertakhlukan, dan umur Muhammad Al-Fatih pada saat itu baru 24 tahun. Imam Syafii lebih manakjubkan lagi, diusianya yang baru 7 tahun, ia telah menjadi guru besar bagi umatnya.

Asy Syahid Hasan Al-Banna juga punya catatan gemilang dimasa muda, puncaknya ketika ia berumur 22 tahun, pada saat itu ia mendirikan sebuah gerakkan dakwah yang akhirnya tersebar kelebih 70 negara di dunia. Dan tentunya masih banyak lagi pemuda-pemuda yang luar biasa itu. Dan mereka memang pantas melegenda.

Lalu aku menatap diriku, lalu membandingnya dengan mereka yang juga sama-sama manusia beriman sepertiku. Apa yang telah kulakukan bagi umat ini? Selama ini aku masih saja menjadi beban dan belum menjadi pahlawan solusi bagi umat ini. Tingkah laku ku jauh dari yang diharapkan Islam. Aku masih saja membelenggu diri dengan segudang alasan bahwa aku tidak mampu memberikan hal yang terbaik dalam hidupku.

Aku sendiri sadar bahwa hidup ini singkat, dan semua kita akan segera meninggalkan bumi ini, lalu semua yang telah aku lakukan diminta pertanggung jawabannya, lalu dibalas dengan balasan surga atau azab neraka. Jika siklus kehidupan seperti itu, lalu kenapa aku masih seperti ini? Jika mereka yang dijamin masuk surga memberikan kontribusi terbaik dalam hidupnya, seharusnya aku lebih dari itu atau minimal sama.

Umat ini telah lama tertidur dan hanya sebagian mereka yang terjaga. Dan aku akan berada pada barisan orang-orang yang terjaga, lalu berkarya untuk kehidupan akhirat. Aku tidak akan menunggu nanti, tapi mulai saat ini, karena bisa jadi maut mendahuluiku sebelum aku berhasil menghasilkan karya hebat bagi umat ini.

Karena siklus kehidupan ada “kematian”, maka aku tidak ingin lagi menjadi orang yang lalai. Aku ingin seperti mereka yang telah melegenda di usia muda. Dan mereka memang orang-orang luar biasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s