MUTAABA’AH “Suatu Kewajiban”

Oleh: Muhammad Subhan Suaidi, SS

Kata mutaaba’ah berasal dari kata taaba’a. Kata ini memiliki beberapa arti. Di antaranya, tatabba’a (mengikuti) dan raaqaba’ (mengawasi). Dengan demikian, kata mutaaba’ah berarti pengikutan dan pengawasan. Yang dimaksud dengan mutaaba’ah sebenarnya adalah mengikuti dan mengawasi sebuah program agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Kata mutaaba’ah sama dengan kata pengendalian di dalam fungsi manajemen.Berbeda dengan mutaaba’ah, muhaasabah tidak mengikuti dan mengawasi sebuah program agar berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Kata muhaasabah berasal dari kata haasaba. Kata itu berarti, antara lain, jaazaa wa ‘aaqaba (mengganjar dan menghukum). Jadi, kata muhaasabah berarti pengganjaran dan penghukuman. Yang dimaksud dengan kata itu sebenarnya adalah mengganjar yang telah menjalankan sebuah program sesuai dengan yang telah direncanakan dan menghukum yang telah menjalankannya tidak sesuai dengan yang telah direncanakan. Kata itu tidak termasuk dalam fungsi manajemen.

Sebagian ikhwah menolak mutaaba’ah karena di dalam kepala mereka yang terbayang dari kata itu adalah orang melaporkan apa yang telah mereka lakukan dalam rangka menjalankan program-program yang direncanakan, yang biasanya berupa amal-amal ‘ibaadah, seperti salat jamaah, salat lail, zikir pagi-petang, tilawah, saum sunah, kemudian mereka berpendapat bahwa itu adalah riyaa. Sebenarnya tidak demikian.

Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar radhiyallahu ‘anh menjawab, “Saya.” Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini melayat orang mati.” Abu Bakar radhiyallahu ‘anh menjawab, “Saya.” Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar radhiyallahu ‘anh menjawab, “Saya.” Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar radhiyallahu ‘anh menjawab, “Saya.” Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak berkumpul hal-hal ini di dalam diri seseorang kecuali ia akan masuk surga.” Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim (1/421-422 dan 2/382) dan Al Bukhari di dalam Al Adabul Mufrad (hal 157) dari jalan Marwan, yaitu Al Fazari, dari Yazid, yaitu Ibnu Kaisan, dari Abu Hazim Al Asyja’I, dari Abu Hurairah. Al Albani di dalam� As-Silisilatush Shahiihah (1/133) mengatakan bahwa hadist ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir di dalam Taarikh-nya (juz 9/288/I) dari jalan itu.

Apakah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam itu berarti Abu Bakar radhiyallahu ‘anh telah riyaa? Tentu tidak! Karena beliau hanya sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan tidak bermaksud riyaa dengannya.

Demikian pula, kita tidak riyaa hanya karena kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam mutaaba’ah. Sebab, hal itu diadakan tidak dengan maksud agar kita riyaa melainkan agar dapat diketahui apakah kita telah dengan baik menjalankan program-program yang telah direncanakan. Bahwa kemudian di antara kita ada yang bermaksud riyaa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan mutaaba’ah, itu bukanlah kesalahan mutaba’ah. Yang salah adalah ia yang bermaksud riyaa.

Memang, hadits itu bukan tentang mutaba’ah Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabat beliau radhiyallahu ‘anh, tetapi tentang ajaran beliau bahwa hal-hal itu dapat membuat mereka masuk surga. Akan tetapi, di dalam hadits itu terdapat dalil bahwa sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang amal-amal ‘ibaadah sebagaimana di dalam mutaba’ah tidak berarti riyaa.

Sebagaimana salah satu fungsi manajemen, mutaba’ah sebetulnya waajib. Ini karena tanpa mutaba’ah manajemen tidak sempurna. Padahal di dalam kaidah fikih dikatakan, “Apa yang tanpanya sesuatu yang waajib tidak sempurna adalah waajib.” Kesempurnaan fungsi-fungsi manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian. Mutaaba’ah adalah pengendalian.

Sumber: http://pks-sidoarjo.org/

3 thoughts on “MUTAABA’AH “Suatu Kewajiban”

  1. pengalam nih ya, waktu ada mutaba’ah di halaqoh ana, ana semangat ngerjainnya, dn sllu ingin target ana tercapai, pas giliran mutaba’ah gada, spirit ibadah ana berkurang..

  2. Iya ukhti itu benar, halaqoh lain juga seperti itu, jika tidak ada mutaba’ah pasti semuanya menjadi lalai, makanya mutaba’ah amal yaumi harus rutin dilakukan..

  3. tetapi ketika sudah tidak dalam lingkaran,..
    maka dibutuhkan keteguhan dan disiplin yang sangat kuat,..
    hmmm,..kesendirian memang menguji, bismillah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s