Ternyata Dia Bukan Untukku..

Seketika air matanya mengalir, perlahan membasahi pipinya. Lelaki tegar itu ternyata menangis juga. Ya apa yang baru saja dia dengar bagaikan petir dan badai sehingga membuat ketegarannya goyah dan rapuh. Tangisannya tak dapat ditahan lagi.

“Sebelumnya aku minta maaf, terima kasih atas cinta tulus yang telah kamu berikan selama ini. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, Alhamdulillah aku telah mendapatkan calon pendamping hidupku. Kami telah bersepakat untuk menikah. Mohon do’a restunya..”

Begitu isi sms yang dikirimkan oleh mantan kekasihnya. Meski ia adalah mantan, tetapi mereka pernah bersepakat untuk serius menuju jenjang pernikahan. Namun kenyataannya terbalik, ternyata orang yang dicintainya selama ini lebih memilih lelaki lain sebagai pendamping hidupnya dengan alasan bahwa mereka tidak cocok dan banyak perbedaan.

“Maafkan aku, kita banyak perbedaan, karena itu aku memutuskan memilih lelaki lain sebagai pendamping hidupku.” Begitu isi sms selanjutnya

Gilang, nama lelaki itu tersandar di sudut kamarnya. Seolah tak percaya akan apa yang terjadi. Orang yang dicintainya telah pergi meninggalkannya.

Gilang mencoba mengingat lagi masa lalu, dimana mereka menyepakati untuk tidak pacaran lagi karena ini dilarang dalam Islam, namun mereka bersepakat untuk menikah ketika diai telah siap untuk menikah. Dan sejak saat itu Gilang mati-matian mencari pekerjaan agar dapat segera meminang wanita yang sangat dicintainya itu.

Gilang masih tersandar dengan air matanya yang masih mengalir, dia baca satu-persatu sms yang terus masuk. Kekasihnya terus berbicara mengenai perbedaan yang menyebabkan mereka tidak bisa bersatu. Harapan musnah sudah.

Malam terasa semakin mencekam. Suara alam seperti berubah menjadi instrument serenade yang alunannya bisa membuat tangis. Dan lelaki muda itu masih saja belum percaya dengan semuanya. Gilang tidak mengerti dari mana perbedaan itu datang. Karena selama mereka pacaran dulu, perbedaan itu terasa tidak ada. Bahkan mereka merasa saling cocok dan nyaman.

Cintanya terasa tak berarti. Pekerjaan yang telah ia dapatkan seakan sia-sia. Dalam hati dia berkata, ini adalah hari gelap di dalam hidupnya.

“Oh Tuhan.. apa yang terjadi…” ucap gilang samar.

Malam semakin larut. Dingin dan pekatnya malam tidak mampu menidurkannya. Gilang masih saja tetap pada posisinya. ia mencoba menghela nafas dan mengatur perasaannya. Mengembalikan pikiran jernihnya. Sambil terisak-isak ia lakukan itu. Begitu sulit ia menata kembali hatinya. Air matanya terus saja mengalir.

Lama setelah itu ia terdiam di dalam remang-remang cahaya lampu kamarnya. Sepertinya ia berhasil menata kembali hatinya atau mungkin ia telah puas menangis.

“Tida adak yang perlu aku tangisi sebenarnya. Entah kenapa aku menjadi cengeng sekali. Dia bukan wanita satu-satunya di dunia ini”. Gilang berucap dalam hati mencoba menghibur dirinya.

Ia mencoba menghadirkan nasehat-nasehat orang-orang shalih di dalam dirnya, ia ingat juga nasehat murabbinya tentang perlunya menjaga kesucian dan mencucikan proses menuju pernikahan tanpa ada hubungan apa pun sebelumnya. Nasehat indah Ibnu Qayyim Al Jauziah pun hadir dalam ingatannya,

“Tak ada lezat bagi siapa yang tak punya sabar. Tak ada nikmat bagi yang tidak mengalami kesulitan. Tak ada istirahat bagi yang tak merasakan lelah. Sesungguhnya, setiap hamba Allah yang mau berlelah sedikit, ia akan merasakan kelegaan yang panjang. Bila ia mau memikul beratnya sabar barang sesaat, itu bisa mengantarkannya kepada hidup yang kekal bersama penerimaan nikmat. Itu tentang sabar beberapa saat. Dan hanya Allah tempat meminta pertolongan. Tiada kekuatan kecuali dari Allah”

Perlahan dalam lamunannya yang panjang ia mulai sadar bahwa ini mungkin teguran dari Allah swt. Allah hendak mengajarkannya sesuatu yang dibutuhkannya di dalam hidup ini, “Sabar dan Berprasaka baik kepada Allah swt.

Lanjut, dalam hati ia berkata mungkin Allah hendak mempersandingnya dengan wanita shaleha yang digambarkan sang Nabi saw. dalam sabdanya,

“…jika dipandang membuatmu semakin saying, jika kamu pergi membuatmu merasa aman karena bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu..”

Semakin larut gilang dalam penghatannya. Dan ia pun menyadari bahwa sesungguhnya Allah lebih tahu apa yang ia butuhkan, dan seperti apa wanita yang cocok untuknya. Dalam penghayatannya yang dalam itu gilang berdo’a dalam hati dengan khusyuk,

“ya Allah.., aku ikhlas atas semua ini. Engkau lebih tahu apa yang aku butuhkan, maka nikahkanlah aku dengan wanita shalihah pilihanmu..”

Dan Gilang pun akhirnya tertidur bersama mimpinya bersama bidadari surga yang telah disediakan Allah bagi hambanya yang beriman lagi menjaga kesucian.

– Bersambung. Nantikan sambungannya –

Catatan: ternyata membuat novel atau cerpen itu cukup sulit, karena kita harus menghayati, menghadiri hati dan ikut merasakan keadaan sebenarnya.  🙂

2 thoughts on “Ternyata Dia Bukan Untukku..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s