Iman, Sebuah Renungan

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum Tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkanmereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

(An-Nisa’: 60)

Keberimanan mengharuskan seseorang untuk tunduk dan patuh terhadap apa yang diimaninya. Ini sikap murni yang lahir dari keimanan yang jujur. Tatkala ia meyakini Allah sebagai Tuhannya dan Rasul Muhammad sabagai Utusan Allah maka keyakinannya itu akan lansung terpancar melalui tingkah lakunya sehari-hari. Tidak terlihat ada keragu-raguan dalam kehidupannya sehari-hari.

Keimanan hanya bisa dirasakan oleh masing-masing individu. Apakah kita termasuk orang yang benar-benar beriman atau bukan hanya masing-masing kita yang merasakan dan Allah menjadi saksi dalam keberimanan kita kepada-Nya. Kita tidak bisa menyembunyikan isi hati dari Allah swt. karena Allah Maha mengetahui segala sesuatu termasuk isi hati.

Maka, sangat begitu kasihan orang-orang yang membohongi dirinya sendiri. Saya, Anda, dan siapa saja bisa merasakan dirinya sendiri apakah termasuk orang yang beriman atau munafik. Dalam sikap, tingkah laku, dan kecondongan hati sehari-hari, kita bisa menilai diri kita sendiri, kita ini termasuk pada golongan yang mana, “beriman” atau “munafik”?

Sungguh betapa indahnya jika kita menginsafi diri kita sendiri. Memperbaiki keimanan kita, lalu beriman dengan jujur. Menyadari kesesatan hati yang ingin disebut sebagai orang beriman dihadapan banyak orang padahal keimanan itu hanyalah untuk Allah, meyakini Allah. Apalah gunanya jika kita mampu meyakini orang bahwa kita beriman, namun Allah tidak mempercayainya karena keimanan kita tercampur oleh keinginan yang lain selain ridha Allah swt.

Memberitahu seseorang bahwa kita telah beriman memang penting, namun jika seandainya diikuti dengan keinginan untuk dipuji dalam setiap amalan, maka betapa meruginya kita.

Maka, puji-pujian manusia terhadap keshalihan dan pengakuan manusia terhadap keimanan kita sangatlah tidak berguna. Itu sama sekali tidak akan menyelamatkan kita, sama sekali tidak akan menyenangkan Allah yang telah menciptakan kita. sama halnya seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Huraira ra. mengenai keadaan keadaan orang yang berjihad karena ingin dipuji, dengan gigih mengorbankan nyawa namun sebenarnya kegigihannya itu hanya untuk mendapatkan pujian sebagai seorang pemberani dihadapan manusia. Keadaan ahli ilmu yang belajar dan mengajarkan ilmu agar disebut sebagai orang yang fakih dihadapan manusia. Keadaan seorang yang dermawan, namun sebenarnya kedermawanannya itu agar ia dipuji sebagai orang yang dermawan dihadapan manusia, maka amalan mereka tidak diterima, Allah masukkan mereka kedalam neraka karena menyandarkan amal untuk mengharapkan pujian atau sanjungan dari orang lain.

Orang pertama yang akan diadili pada hari kiamat kelak adalah orang yang mati syahid. Dia dipanggil menghadap lalu diperlihatkan nikmat-nikmat yang pernah diterimanya lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu lakukan dengan nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang karena Engkau semata, hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Kamu bohong, sebernarnya kamu berperang agar disebut pahlawan.’ Diceritakan, orang ini akhirnya dilempar ke neraka.

Setelah itu, giliran seseorang yang mempelajari suatu ilmu, mengajarkannya, dan pandai membaca Al-Qur’an. Dia dipanggil menghadap lalu diperlihatkan nikmat-nikmat yang pernah diterimanya lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang suda kamu lakukan dengan karunia ini?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajarinya suatu ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an karena Engkau semata.’ Allah berfirman, ‘Kamu bohong. Tapi kamu menuntut ilmu supaya disebut orang alim dan kamu membaca Al-Qur’an supaya disebut qari (ahli Al-Qur’an).’ Diceritakan orang ini akhirnya dilempar ke neraka.

Selanjutnya giliran seseorang yang dianugerahi limpahan harta oleh Allah. Dia dipanggil menghadap lalu diperlihatkan nikmat-nikmat yang pernah diterimanya lantas dia mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu lakukan dengan hartamu?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu pun jalan yang Engkau sukai untuk jalan infak kecuali aku menginfakkan hartaku di dalamnya karena-Mu.’ Tapi Allah menjawab, ‘Kamu bohong, kamu melakukan itu supaya disebut dermawan.’ Diceritakan, akhirnya dia dilempar ke dalam neraka. (HR. Muslim)

Ya, Allah ampunilah kami.., ampuni kesalahan kami karena tidak benar-benar beriman kepadamu. Betapa sering kami melakukan amal, namun lebih sering agar dilihat oleh orang lain. Betapa sering kami di dalam kesendirian melakukan perbuatan dosa, padahal Engkau Maha Melihat keadaan kami. Betapa sering kami tidak khusyuk dalam beribadah dan fikiran kami entah kemana-mana, padahal penyembahan yang murni hanyalah untuk-Mu ya Allah…

Astagfirullahal ‘azhim..3x

Ya Allah, bantulah kami dalam meluruskan kembali keimanan kami. Tuntunlah kami dalam setiap amal yang kami lakukan, agar semua yang kami lakukan itu ikhlas karena-Mu ya Allah.. dan jauhkanlah kami dari keragu-raguan..

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya beriman adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

(Al-Hujurat: 15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s