Mereka Kuat Karena Khusyuk

“Itu sebabnya, sebenarnya khusyuk adalah hasil dari amal shalih, do’a dan kesegeraan dalam melakukan kebaikan.”

Ir. Abdeldaem Al Kaheel asal suriah mengatakan “para ilmuan menemukan bahwa metoda seperti “meditasi” sangat bermanfaat untuk mengobati penyakit, menajamkan memori serta meningkatkan kreatifitas, kesabaran dan sebagainya.”

Lanjut sang Insinyur mengatakan, “Akan tetapi Al-Qur’an tidka terbatas pada apa yang dinamakan meditasi atau kontemplasi belaka. AL-Qur’an memiliki istilah sendiri, yakni khusyuk. Khusyuk merupakan faktorpenting dalam beribadah sekaligus paling sulit menerapkannya karena memerlukan konsentrasi yang dalam. Itu sebabnya, istilah khusyuk, menunjukkan tingkat perenungan yang tinggi diiringi pemikiran mendalam tentang sesuatu. Kekhusyukan ini bukan hanya ibadah saja, tapi memiliki beragam manfaat materil dalam mengobati penyakit, serta revitalisasi organ tubuh.”

Lanjutnya beliau berkata ketika mengaitkan antara khusyuk dan shalat, “AL-Qur’an menegaskan peran penting khusyuk dalam memelihara shalat. Karena banyak umat Islam yang tidak khusyuk dalam shalatnya, meskipun mereka berupaya berulangkali tapi mereka gagal untuk menjaga kekhusyukan dalam shalat. Karenanya Allah swt berfirman,

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Demikianlah, peran besar kekhusyukan dalam shalat sangat besar. Karena itu Al-Qur’an mengaitkan antara shalat dengan kekhusyukan. Dan yang mengagumkan, ketika Al-Qur’an mengaitkan sabar dan kekhusyukan. Para ilmuan sekarang benar-benar meyakini berdasarkan eksperimen yang mereka lakukan, bahwa khusyuk (meditasi dalam istilah mereka) benar-benar bisa menambah kekuatan manusia untuk memikul dan bersabar dalam menghadapi situasi sulit.

Ada beberapa ilmuwan Amerika yang melakukan percobaan terhadap orang-orang yang beribadah (tentu dengan versi keyakinan mereka). Ternyata mereka menemukan ritual ibadah itu memiliki dapak signifikan terhadap pengobatan gangguan jantung dan stabilitas kerja otak. Dan sebenarnya, kita bahkan telah mendapatkan firman Allah swt dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)”

Ir.  Abdeldaem juga menjelaskan bagaimana cara menerapkannya dalam kehiudpan kita dan betapa kekhusyukan itu memberi kekuatan pada hidup manusia. “Ini adalah Al-Qur’an. Ialah media yang paling baik untuk menerapkan kekhusyukan kepada Allah swt. Di sini, kita perbaiki anggapan yang banyak berkembang, yang menyebutkan bahwa khusyuk dilakukan ketika shalat saja, atau ketika membaca Al-Qur’an saja. Yang benar adalah, bahwa khusyuk merupakan metode yang diterapkan oleh orang beriman, setiap waktu, sebagaimana dilakukan para Nabi Allah swt.

Perhatikanlah kehidupan para Anbiya alaihimussalam, yang penuh dengan kekhusyukan. Bahkan mereka selalu dalam kondisi khusyuk. Inilah yang membantu mereka mampu memikul beban berat dan kesabaran atas rasa sakit, cacian dan lainnya. Khusyuk inilah salah satu sebab do’a mereka dikabulkan oleh Allah swt.

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Perhatikanlah friman Allah swt, “Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”

Ini artinya, mereka para Anbiya adalah orang-orang yang selalu dalam kondisi khusyuk kepada Allah swt. Kita patut meniru mereka dalam menjalani hidup ini. Bagaimana caranya?

Seorang mukmin sejati adalah yang selalu menjaga kekhusyukan dalam shalatnya. Dan ketika bersedeka, ia juga bertakfakkur tentang shadaqahnya. Ketika mengunjungi orang sakit, ia berpikir tentang pentingnya menengok orang sakit lalu meminta kepada Allah swt untuk dijauhkan dari penyakit. Ketika berinteraksi dengan manusia, saat berinteraksi jual beli misalnya, ia merasakan bahwa Allah swt memantau dan melihatnya sehingga ia tidak menipu dan berbohong. Ia menjadi manusia yang jujur agar terhimpun di hari kiamat bersama orang-orang yang jujur.

Ketika seorang mukmin terkena fitnah dan berada di tepi jurang yang diharamkan Allah melakukannya, ia akan mengingat  bahwa Allah set melihatnya dan tidak ridha dengan sikapnya. Lalu ia menjauh dari kemaksiatan ini karena Allah swt. ketika itulah ia merasakan nikmat dan manisnya keimanan.

Ketika seorang mukmin mendapati sikap yang tidak disukainya dari istri. Ia menyadari bahwa Allah swt. memerintahkannya untuk bisa menggauli istrinya dengan baik. Ia tidak boleh menyakitinya. Dan bahwa Allah Rasulullah saw selalu menasehatinya dengancara yang baik. Ketika itulah, ia akan lebih sabar dan tidak mudah melakukan sesuatu yang menyakitkan. Itulah khusyuk.

Ketika seorang mukmin menderita satu penyakit atau mengalami situasi sulit. Hal pertama yang dilakukannya adalah berdo’a dan berlindung kepada Allah swt. Ia mengetahui bahwa Allah swt lah yang emberi manfaat dan bahaya. Dialah Yang kuasa dan Memiliki kebaikan untuk menyembuhkan. Dialah Yang Memberi rizki karena dalam Genggaman Kuasanya seluruh kebaikan. Inilah kekhusyukan yang sejati.

Itu sebabnya, sebenarnya khusyuk adalah hasil dari amal shalih, do’a dan kesegeraan dalam melakukan kebaikan. Jika Anda ingin Allah swt memberikan kenikmatan khusyuk kepada Anda dan do’a Anda dikabulkan sebagaimana do’a para Nabi dahulu, maka anda harus segera melakukan kebaikan. Jangan menunggu sampai Anda diberikan harta yang banyak untuk bersedekah. Pergilah dan segeralah berinfaq. Lalu ingatlah Allah swt dengan mengulang-ngulangnya setiap hari:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90)

Berangkali setelah fakta-fakta ini, kita mengetahui mengapa Allah swt mewahyukan Nabinya Rasulullah Muhammad saw sebelum bi’tsah, agar pergi ke gua Hira dan menyendiri di sana. Rasulullah saw lalu merenung tentang penciptaan alam semesta, bertafakkur tentang keagungan Sang Pencipta Allah swt. Karena fase ini sangat penting sekali untuk bisa memberikan kemampuan bersabar dan memilkul beban yang akan dipikul dari memperjuangkan Islam di muka bumi.

(Catatan ini disarikan dari majalah Tarbawi edisi 238 Th.12. dengan judul asli “Mereka Kuat Memikul Beban Perjuangan Karena Khusyuk” Ditulis oleh Ir. Abdeldaem Al Kaheel asal suriah yang telah membuat karya tulis lebih dari 1500 tema tentang mukjizat Al-Qur’an dan sunnah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s