Cahaya Allah Tidak Dikaruniakan Kepada Pendosa

Aku mengadu kepada al-Waki’ tentang buruknya hafalanku

Dia menunjuki aku agar meninggalkan maksiat

Dan mengabariku, bahwa ilmu adalah cahaya

Cahaya Allah tidak dikaruniakan kepada pendosa

(Syair Imam Asy-Syafi’I)

Syair di atas merupakan syair dimana Imam Syafi’I tanpa sengaja melihat betis perempuan yang menyebabkan hafalannya menjadi buruk. Apa yang terjadi pada Imam Syafi’I merupakan kejadian “ketidaksengajaan” bukan “disengaja.”

Jika ketidaksengajaan dapat membuat buruk hafalan, bagaimana dengan menyengajakan dalam berbuat maksiat?

Apakah anda pernah kehilangan hafalan yang telah kita hafal berkali-kali?

Apakah anda pernah lupa akan ilmu yang pernah dikuasai?

Apakah anda pernah merasakan bahwa pelatihan training motivasi tidak mampu memberikan apa-apa selain hanya memberikan semangat sebentar saja?

Apakah anda pernah mendapatkan nasehat dari para Ulama-ulama, Ustadz-ustadz, dan orang-orang salih lainnya namun nasehat itu hanya masuk sejenak kedalam hati kita dan tidak menjelma menjadi ruh perubahan dalam diri?

Apakah anda pernah mempelajari ilmu agama namun ilmu agama itu tidak mampu membawa perubahan dalam hidup anda?

Apakah anda pernah lalai dalam ketaatan kepada Allah padahal kita tahu azab Allah sangat pedih?

Apakah anda sering berbuat maksiat padahal kita tahu semua perbuatan maksiat akan mengantarkan pelakunya kepada murka Allah?

Apakah anda pernah kikir padahal Allah telah menjamin tidak akan habis harta bagi orang yang rajin menginfakkan hartanya?

Kenapa semua itu bisa terjadi?

Apa sebabnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah kenyataan dalam kehidup kita bahwa betapa sering ilmu-ilmu yang kita dapatkan tidak mampu memberi manfaat kepada kita karena hati yang tertutup oleh maksiat.

Betapa sering hikmah kehidupan menghampiri namun kita tidak dapat melihatnya, setiap hari ada begitu banyak orang yang meninggal dunia, namun hati sedikitpun tidak bergeming takut kepada Allah swt. semua itu akibat maksiat yang telah terlalu banyak dilakukan tanpa ada instrospeksi diri, tanpa ada muhasabah, tanpa ada hati yang disiapkan untuk menerima hidayah Allah swt. Barangsiapa yang masih saja banyak melakukan kemaksiatan berarti dia belum membuka hatinya. Sebab bermaksiat berarti menutup hati, menutup masuknya cahaya Allah.

Jika kita ingin merasakan manisnya iman. Jika kita ingin merasakan manisnya ketaatan kepada Allah. Jika kita ingin selalu bersemangat dan tenang dalam menjalani hidup seperti yang dirasakan orang-orang shalih, maka jauhilah kemaksiatan. Tutup rapat-rapat hati kita dari kemaksiatan dan bukalah selebar-lebarnya untuk menerima cahaya Allah swt.

Imam Malik rahimahullah berpesan kepada kita,

“Maka jangan padamkan cahaya itu dengan gelapnya maksiat”

2 thoughts on “Cahaya Allah Tidak Dikaruniakan Kepada Pendosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s