Sepotong Kisah Indah Kaum Anshar

Ada sebuah kisah indah kaum Anshar bersama Rasulullah saw. yang membuat takjub hati saya. Saya ikut merasakan tangis haru kaum Anshar seakan-akan saya adalah bagian dari mereka, padahal kejadian itu telah berlansung 14 abad lebih yang lalu. Air mata saya pun mulai mengalir karena haru. Betapa beruntungnya kaum Anshar saat itu. Mereka pulang membawa Allah dan Rasul-Nya sementara orang lain pulang dengan membawa dunia.

Kisa itu adalah kisah disaat perang Hunain. Dimana seletah perang usai Rasulullah saw. membagi-bagikan harta rampasan perang (ghanimah) kepada yang berhak secara adil dan bijaksana. Rasulullah saw. membagikan harta rampasan perang itu kesemua tokoh-tokoh Quraisy yang baru saja masuk Islam, termasuk kepada mereka yang dulu menentang Islam dengan keras. Sementara kaum Anshar tidak mendapatkan sedikitpun bagian dari harta rampasan perang itu.

Melihat pembagian itu para sahabat Anshar merasa cemburu, mereka merasa dilupakan oleh Rasulullah saw. Padahal mereka telah berjuang dengan sangat gigih dan memberikan loyalitas yang penuh terhadap perjuangan Islam. Kita tentu masih ingat bagaimana kebaikan dan keutamaan kaum Anshar ketika menerima kaum Muhajirin yang berhijrah bersama Rasulullah saw. ke Medinah.

Merasa terlupakan membuat gejolak bermunculan di kalangan kaum Anshar. Salah seorang diantara mereka berkata, “Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada Rasul-Nya, karena beliau telah member kepada kaum Quraisy dan tidak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka.”

Yang lain berkata, “Rasulullah sekarang telah menemukan para kerabatnya.”

Sa’ad bin Ubadah mendengar keluhan kaumnya lantas tak mau tinggal diam atas gejala yang terjadi. Beliau lansung bergegas menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Setelah mendengarkan laporan Sa’ad bin Ubada, Rasulullah saw. bertanya , “Bagaimana perasaanmu sendiri, ya Sa’ad?” Sa’ad menjawab, “Ya Rasulullah, aku adalah bagian dari kaum ku.”

“Kumpulkanlah kaum Anshar di tempat ini,” kata Rasulullah saw.

Saat lansung beranjak dan segera mengumpulkan segenap kaum Anshar, setelah semuanya terkumpul, Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya?”

Mereka menjawab “Ya Rasulullah, para pemimpin kami tidaklah mengatakan sesuatu pun. Hanya kami para pemuda, yang berkata, “Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada Rasul-Nya, karena beliau telah member kepada kaum Quraisy dan tidak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka.”

Rasulullah saw. bersabda, Wahai kaum Anshar, bukankah aku datang kepada kalian, sedang kalian dalam kesesatan, lalu Allah member petunjuk kepada kalian melalui perantara aku? Dan kalian dalam kepapaan, lalu Allah member kemampuan kepada kalian karena aku? Dan dulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan kalian Karena aku?”

Kaum Anshar menjawab, Benar, Allah dan Rasul-Nya amat pemurah dan mengaruniai!”

“Tidakkah kaian menjawab aku, wahai kaum Anshar?” Tanya Rasulullah lagi kepada mereka

“Dengan apa lagi kami harus menjawab engkau, ya Rasulullah padahal bagi Allah dan Rasul-Nya semua kemurahan dan keutamaan?” jawab kaum Anshar.

Rasulullah bertanya lagi, “Apakah yang menghalangi engkau menjawab kepada Rasulullah?”

“Ya Rasulullah, engkau mendapati kami tengah dalam kegelapan, lalu Allah mengeluarkan kami kepada cahaya lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami di tengah tepi api neraka lalu Allah menyelamatkan kami lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami dalam kesesatan, lalu Allah menunjuki kami lantaran engkau. Maka dari itu kami telah ridha Allah sebagai Tuhan kami, dan Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi. Maka berbuatlah sekehendakmu, karena engkau adalah kehalalan, ya Rasulullah,” Jawab mereka.

Rasulullah saw. merasa masih belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Lalu Rasulullah saw. bersabda,

“Demi  Allah, sekiranya mau tentu kalian akan berkata dan pasti kalian akan dibenarkan: Bukankah engkau (ya Rasulullah) datang kepada kami keadaan didustakan, lalu kami (Anshar) yang membenarkan engkau. Bukankah engkau dihinakan, lalu kami menolong engkau. Bukankah engkau datang sebagai orang usiran, lantas kami melindungi engkau, dan engkau dalam keadaan miskin, lalu kami memberikan kemampuan kepada engkau. Engkau datang sebagai orang yang takut, lalu kami mengamankan engkau. Apakah kalian dapati pada diri kalian sekelumit dari hal dunia; di mana aku akan menjinakkan satu golongan dengan sekelumit keduniaan itu agar mereka masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman kalian yang teguh?”

“Benar ya Rasulullah, kami sungguh telah ridha,” jawab kaum anshar

“Hai kaum Anshar! Tidakkah kalian rela bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedang kalian kembali dengan membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian? Demi Dzat yang Muhammad di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, tentu aku menjadi golongan Anshar! Jika sekiranya orang-orang menempuh lembah dan tepi gunung, sedang orang Anshar menempuh lembah atau tepi gunung yang lain, niscaya aku menempuh jalan yang dilalui orang-orang Anshar!” lanjut Rasulullah saw.

Ternyata semua itu adalah strategi dakwah Rasulullah untuk dapat melunakkan hati orang-orang yang baru masuk Islam. Mendengar penjelasan itu, kaum Anshar yang hadir saat itu menangis mencucurkan air mata, sampai-sampai janggut mereka pun menjadi basah karena air mata mereka yang mengalir dengan derasnya. Mereka tak kuasa menahan haru yang disebabkan kecintaan mereka yang dalam kepada Rasulullah saw. Lalu mereka serentak menjawab,

“Kami telah ridha kepada Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian!”

Itulah kisah yang menggetarkan iman, Ya Allah.. Hamba ingin pulang bersama Rasulullah saw..

 

Sumber Bacaan: Buku “Tegar di Jalan Dakwah” karya Cahyadi Takariawan

11 thoughts on “Sepotong Kisah Indah Kaum Anshar

  1. blog anda bagus>>>

    saya ajungi jempol!!!!

    dan saya hanya sekedar mampir ya sekalian blogwalking!!!

    jika bernit liat blog saya kunjungin balik jja!!!!

  2. Lebih mengharukan lagi, Rasulullah tetap menepati janji sebagai warga Madinah, meski setelah penaklukan Makkah (tanah kelahirannya). Hingga Madinah pun mendapat kehormatan abadi sebagai kota kenabian, “Kota Nabawi”

  3. Rasulullah pun kembali ke Madinah setelah menaklukkan hati orang-orang Makkah. Dan beliau di sana hingga akhir hayat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s