Memberdayakan Rasa Bersalah

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hato mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)

Fudhali bin Iyadh lansung tersentak setelah mendengarkan ayat ini ketika ia memanjat sebuah tembok untuk melihat wanita yang dicintainya. Rasa bersalahnya lansung menghampiri seketika, malam itu juga. Fudhail bin Iyadh yang dikenal paling ganas dan menakutkan bagi para musafir yang berlalu di malam hari kini mulai menyadari kesalahan-kesalahannya dan segera bertindak untuk memperbaiki diri.

“Yang aku perbuat di malam hari adalah kejahatan. Sedang kaum Muslimin di sini, mereka takut kepadaku. Sungguh rasanya aku tidaklah dikirim Allah kepada mereka mala mini, kecuali agar aku menjadi sadar dan luluh. Ya Allah, sungguh aku kini bertaubat kepada-Mu”

Demikianlah sepotong kisah yang terdapat pada majalah Tarbawi edisi 247. Dan judul tulisan ini juga diambil dari majalah Tarbawi edisi 247 tersebut.

Kawan, ada banyak diantara kita yang melakukan kesalahan dalam hidup. Apakah itu kesalahan besar atau kecil. Disengaja atau tidak namun dia tetap berbentuk kesalahan yang mungkin tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain.

Kesalahan yang kita lakukan tanpa disengaja, khilaf, lalai atau mungkin dipaksakan oleh orang lain tentu semua itu sudah diberi garansi ampunan oleh Allah kepada kita hambanya. Rasulullah saw. Bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan kesalahan-kesalahan umatku yang tidak disengaja, karena lupa dan yang dipaksakan melakukannya.” (HR. Ibnu Majah)

Lalu bagaimana dengan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan secara disengaja baik itu besar atau kecil, baik itu terus menerus kita lakukan atau sekali saja tapi besar kesalahannya? Seringkali kita salah dalam mengelola hati kita dalam mengekspresikan rasa bersalah ini. Merasa Tak Pantas Menjadi Orang Baik. Terkadang ketika rasa bersalah itu muncul karena kesalahan atau dosa yang telah dilakukan berulang-ulang, orang ini menempatkan dirinya sebagai seorang pendosa berat yang sudah tidak bisa diampun lagi.

Orang-orang seperti ini merasa bahwa tidak ada lagi kepantasan bagi dirinya untuk memperbaiki diri dan menjadi orang baik. Mereka juga merasa bahwa dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat tidak mungkin lagi diampuni oleh Allah swt. Sehingga langkah yang dilakukan oleh orang-orang seperti ini adalah tetap berkubang dalam perbuatan dosa, tetap melakukan kesalahan sampai akhir hayatnya. Padahal Allah adalah Maha Pengampun dosa-dosa hamba-Nya baik yang besar maupun yang kecil.

Namun ada juga yang mengekspresikan kesalahannya dengan penyesalan sekedarnya. Atau saya lebih suka menyebutnya “Penyesalan Yang Tak Bermakna”. Orang-orang seperti ini juga salah dalam menempatkan rasa bersalah. Bagi mereka ini biasa dan tak perlu ditangisi, jalanni saja hidup ini apa adanya, masa bodoh dengan kesalahan-kesalahan tersebut. Sehingga sikap seperti ini jika dipelihara maka lama-kelamaan akan mematikan hati kita. Dan kita sudah melihat saat ini betapa banyaknya orang-orang yang sudah mati rasa hatinya disebabkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan secara terus menerus tanpa mau menyadarinya, sehingga perbuatan salahpun menjadi kebiasaan baginya.

Kawan, rasa besalah yang menghampiri diri kita bukanlah akhir dari segala-galanya sehingga kita merasa tidak pantas untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Rasa bersalah yang diekspresikan secara berlebihan akan mematikan potensi hati sebagaimana membiarkan rasa bersalah dan tetap melakukan kesalahan-kesalahan juga mematikan kepekaan hati. Kedua hal tersebut akan merugikan kita.

Lalu seperti apa yang benarnya?

Ekspresikanlah rasa bersalah atau dosa itu pada pertengahannya. Kita tidak terlalu berlebihan dalam  menyesali kesalahan itu sehingga membuat potensi hati kita untuk bangkit menjadi mati dan kita juga tidak membiarkan rasa bersalah itu berlalu begitu saja.

Yang saya maksud adalah ketika kita melakukan kesalahan, maka diri kita harus menyesalinya dan berkomitmen untuk memperbaiki diri dan tidak akan mengulangi lagi kesalahan tersebut. Inilah cara mengelola kesalahan yang benar.

Insya Allah keinsafan kita dan kepiawaian kita dalam mengelola rasa bersalah akan membuahkan sifat manis bagi kehidupan kita. Rasa bersalah yang benar akan melumpuhkan sifat-sifat buruk yang terdapat dalam diri kita. Sebuah nasehat indah yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zairofi AM,

Kita harus bisa memastikan bahwa setiap kadar rasa bersalah adalah tambahan energi baru untuk jadikan diri lebih matang dan lebih dewasa.”

Dan pesan Rasulullah saw. untuk kita semua,beliau bersabda,

“Betakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (keburukan itu) dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)


Wallahu ‘Alam bish-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s