Istiknaf

Istiknaf adalah keengganan untuk bergabung dalam masyarakat, atau instansi, atau berbagai organisasi yang ada.

Dakwah dan juga para da’i tidak mungkin mampu mengenal dan menguasai objek dakwah jika memiliki sifat tersebut. Karenanya fenomena yang belakangan ini terus berkembang tersebut harus segera dihindari, bahkan semampu mungkin untuk meluruskan da’i lain yang bersifat seperti itu.
Jika fenomena ini tidak segera diluruskan, maka tidak mustahil suatu masyarakat akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk memusuhi gerakan dakwah dan islam itu sendiri.
keengganan para da’i untuk terjun dalam kencah politik, dengan alasan bahwa politik itu kotor dan dapat mengotori orang yang terjun di dalamnya, atau politik itu terlaknat, dan terlaknat juga para praktisinya. Atau alasan-alasan lainnya yang tidak pernah diakui Islam. Keengganan ini akhirnya memberi kesempatan luas bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai dan menjadi penentu kebijakan di negeri-negeri muslim. Dengan demikan mereka akan semakin mudah memerangi Islam dan umatnya. Keengganan umat Islam untuk ikut bergabung dalam berbagai organisasi sosial atau lainnya, akan menjadikan organisasi-organisasi yang ada dikuasai sepenuhnya oleh oelh orang-orang non-Islam, bahkan termasuk masalah yang seharusnya ditangani umat Islam. Lebih parah lagi organisasi-organisasi tersebut menyebarkan opini di tengah masyarakat untuk menyerang berbagai pergerakan Islam yang ada.
Atau keengganan para da’i untuk menjadi pegawai negeri, dalam bidang apa pun; pendidikan, meliter, penerangan dan lain sebagainya, dengan alasan bahwa sistem yang ada dalam instansi terkait tidak Islami. Sikap ini jelas akan menjadikan berbagai instansi pemerintahan sebagai sarang musuh-musuh Islam, dan pada akhirnya akan menjadi penghalang utama gerak dan laju pergerakan Islam.
Kengganan untuk berbaur dengan masyarakat, dengan alasan mereka jauh dari Islam dan berakhlak tidak terpuji, hal ini akan menjadikan masalah semakin kompleks, dan jurang pemisah antara Islam dan masyarakat semakin jauh. Jika ini yang terjadi, maka bisa diibaratkan dengan dokter yang menjauhi pasiennya dan bahkan dirinya sendiri.
Lalu apa nilai dakwah dan para da’i jika tidak melakukan proses perubahan di dalam masyarakat. Apakah mereka mengira perubahan bisa dilakukan dari luar masyarakat?!
Sehubungan dengan ini, dakwah hanya memiliki dua pilihan:
  1. Terbatas pada pada anggotanya, tanpa peduli dengan masyarakat sekelilingnya. Dalam kondisi seperti ini dakwah tersebut merupakan dakwah orang-orang shalih namun tidak bisa memperbaiki masyarakat sekitarnya. Karena itu kelompok ini harus segera menyadari bahwa langkah yang ditempuh jelas tidak sesuai dengan Islam dan tabi’at dakwah. Mereka juga harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari badai kerusakan dan kejahiliyahan.
  2. Dakwah dilakukan untuk semua lapisan masyarakat, terutama yang sakit sebelum yang sehat, yang menyimpang sebelum yang lurus. Dakwah ini berusaha memancarkan sinar hidayah kepada siapa saja, menyayangi siapa saja, menghendaki kebaikan bagi siapa saja dan bahkan memanfaatkan dan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada di dalam masyarakat demi kepentingan dakwah dan Islam.

Sesungguhnya ideologi perubahan Islam menghendaki adanya satu barisan yang tersleksi, dan mereka inilah yang menjadi pioner dalam perbaikan. Namun demikian perubahan harus menyentuh masyarakat, karena di sinilah akar dan kekuatan mereka.

Jika gerakan Islam tidak mau beranjak dari tempatnya, setelah memiliki kader-kader pilihan, dan tidak mau bergaul dengan masyarakat, mendidik, membimbing, mengarahkan membantu, memimpin dan meringankan kesulitan mereka dan melakukan perbaikan di tengah-tengah mereka, maka masyarakat akan meninggalkannya dan akhirnya gerakan ini akan hancur karena tidak memiliki akar dan kekuatan di dalam masyarakat dalam melakukan pertarungan mempertahankan eksistensi. Mahabenar Allah yang berfirman:

“Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (Muhammad [47]: 38).

Wallahu ‘Alam bish-shawab.


Disarikan dari buku Al-Isti’ab fi hayati-dakwah wad-daiyah karya Alm. Ust. Fathi Yakan. Terbitan Indonesia: Isti’ab: Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah, Penerbit: Robbani Press, cetakan keenam Maret 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s