Bukan Agamanya, Tapi Orangnya..

Kyai Haji Ahmad Dahlan ditanya oleh muridnya, “apa itu agama?” Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya bermain biola. Para murid menyimak dan menghayatinya. Mereka sangat menikmatinya, bahkan ada yang terkantuk-kantuk.

“Bagaimana persaaan kalian?” Tanya kiyai tentang alunan biolanya.

“Menghibur, menyejukkan, menenangkan.” Begitu jawab para muridnya.

Lalu Kiyai Haji Ahmad Dahlan menyerahkan biolanya ke salah satu murid, dan memintanya untuk memainkan biola yang sama. Murid tersebut tidak tahu apa-apa tentang biola. Sret… krek… bret…ngoott…begitu bunyi biolanya.

“Bagaimana persaaan kalian, sekarang?”  Tanya kiyai lagi tentang alunan biola.

“Baru sentuhan pertama, seluruh yang mendengar langsung sakit telinganya.
Sakit, menusuk telinga, meresahkan.”

“Itulah agama.” Jelas KH Ahmad Dahlan tentang biola sebagai perumpamaan agama.
“Agama sama seperti permainan biola ini. Jika yang menjalankan agama tahu bagaimana menerapkan agama, maka agama akan menyejukkan, menentramkan dan membahagiakan. Sebaliknya jika agama dijalankan oleh orang yang tidak tahu bagaimana menerapkan agama, maka ajaran agama jadi meresahkan, mengganggu dan merusak.” (Penggalan scene Sang Pencerah)

Ya, apa yang dikatakan KH Ahmad Dahlan itu benar. Agama itu akan menyejukkan dan menentramkan jika yang memeluk agama tersebut pandai dalam menjalankan perintah agama. Pernyataan senada juga diucapkan oleh Rasyid Ridha “Kemuliaan Islam tertutupi oleh umat Islam sendiri”.

Inilah permasalahan kita kali ini yang menjadi agenda besar kita, yaitu mempertemukan kembali keindahan akhlak umat Islam dengan dengan kemuliaan Islam, karena hanya dengan itulah Islam tampak mulia. Rasulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabat,

“ Apakah agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik”. Kemudian beliau ditanya tentang kesialan. Beliau menjawab, “Akhlak yang buruk.” (HR. Ahmad)

Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Aa Gym mengenai fenomena saat ini

“Banyak orang yang berusaha merubah dunia, tetapi sedikit sekali orang yang terlebih dahulu yang merubah dirinya menjadi pribadi yang shalih”

Inilah tugas kita kawan, dan tidak ada jalan lain lagi selain memperbaiki diri. Indonesia akan terus menjadi seperti ini jika masyarakatnya sendiri tidak mau merubah diri. Hindari perbedaan, cari persamaan yang membuat hidup ini lebih berarti. Kita beri arti hidup ini dengan cahaya keshalihan biar semua orang tahu kitalah generasi yang sedang dinanti-nanti.

 

(Terinspirasi dari catatan Mas Isa AlamsyahThe man behind the Gun ‘Penggalan film Sang Pencerah’”)

 

 

2 thoughts on “Bukan Agamanya, Tapi Orangnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s