Revolusi Pendidikan (Jilid 2)

Ini tulisan kedua dari tema Revolusi Pendidikan, tulisan pertama diambil dari catatannya Mas Isa Alamsyah di facebook, dan dibawah ini adalah tulisan hasil dari kajian saya sendiri.

***

Siapa saja pasti akan geleng-geleng kepala jika seorang anak kecil sudah pandai merokok bahkan berani melawan orang tuanya, atau anak SD sering melihat-lihat gambar porno. Mungkin kita juga sering menemukan di sekitar kita anak-anak yang malas dalam belajar, membaca malas, mengerjakan tugas sekolah juga malas, jadi apa-apanya malas. Apanya yang salah?

Belakangan ini seringkali saya melihat kecelakaan moral yang terjadi pada anak-anak dibawah usia umur balig (17 Tahun ke bawah) seperti yang saya sebutkan di atas. Saya menyebutnya kecelakaan moral sebab begitu banyaknya kawan-kawan kecil kita ini melakukan sesuatu yang tak sepantas dilakukan oleh seorang anak kecil, sebagai contoh merokok atau menonton video porno.

Mungkin sebagian kita akan mengatakan “ah, biarkan saja, merekakan masih kecil nanti mereka tahu sendiri mana yang benar dan salah.” Bagi saya tidak begitu, dan saya sama sekali tidak sepakat dengan pendapat diatas “seolah-olah bijak, tapi menghancurkan”.

Fenomena yang terjadi pada masa kanak-kanak sekarang ini lebih karena faktor lingkungan dan pendidikan formal dan informal yang kurang tepat. Anak kecil kurang ajar atau berkata-kata kotor itu hasil didikan lingkungannya atau orang tuanya. Hasil dari mencontek budaya lingkungannya dan tingkah laku orang tuanya. Jadi permasalahan kecelakaan moral pada anak-anak yang terjadi belakangan ini di tengah-tengah kita –sadar tidak sadar- merupakan hasil dari didikan kita sendiri.

Sudah saatnya kita menggaungkan “Revolusi Pendidikan”. Revolusi Pendidikan yang akan kita lakukan dalam 2 sisi. Pertama pendidikan formal dan pendidikan informal. Revolusi yang akan kita bahas kali ini kita cukupkan untuk pendidikan usia anak-anak dulu

Yang pertama, pendidikan formal (sekolah) seperti SD seharusnya lebih banyak pada pembentukkan karakter, pengajaran moral seperti mengajak untuk peduli dengan sesama atau lingkungan. untuk ilmu-ilmu umum lainya saya rasa belum begitu penting dan seharusnya tidak usah dipaksakan. Cukup mereka bisa membaca , menulis dan menghitung lalu arahkan kemampuan dasar mereka itu untuk berkarya. Ingat, semakin sering kita mengajak otak mereka berfikir untuk berkarya, semakin cerdas otak mereka. Karena seperti itu lah cara kerja otak, otak kita baru meningkat kemampuannya jika digunakan. Untuk bagaimana cara kerja otak silahkan teman-teman baca sendiri di buku-buku mengenai kerja otak yang banyak bertebaran.

Bagus memang kalo anak kecil tahu banyak hal, tapi jika karakter kepribadiannya tidak tumbuh dengan baik ini akan berdampak buruk. Dampak buruk yang sangat fatal adalah “MALAS”, kecil-kecil mereka sudah terbiasa malas. Selama ini saya melihat pendidikan yang berjalan di SD disekitar saya berjalan begitu saja, tanpa ada peningkatan mutu pada si anak, yang terlihat siswa itu lebih banyak bodohnya ketimbang pintarnya. Saya yakin teman-teman semuanya juga merasakan ini bagaimana mutu generasi kecil kita saat ini rendah dan tidak berkarakter memajukan.

Jadi, membenahi pendidikan, cara mendidik dan memberikan pendidikan yang tepat bagi anak-anak pada pendidikan formal (sekolah) sangatlah penting, semua SD seharusnya menjadi lingkungan yang baik bagi perkembangan generasi muda. Seorang ibu mengeluh setelah anaknya masuk SD karena anaknya bandel tidak seperti biasanya, padahal katanya dia telah mendidiknya dengan baik di rumah. Bahkan ada yang mengeluh dengan cara mengajar sebagian guru yang tidak mendidik.

Yang kedua, dalam pendidikan informal seharusnya para orang tua lebih selektif. Menyalahkan pendidikan formal atas rendahnya kemampuan anak atau rusaknya moral seorang anak juga tidak tepat, sebab bagimanapun si anak lebih sering berada dekat orang tua atau lingkungan rumahnya. Maka memberikan pengajaran yang baik dalam pendidikan anak di rumah haruslah dilakukan. Contohnya dengan menunjukkan mana yang baik atau tidak baik, serta MENEGUR SEGERA jika mereka salah, selain itu para orang tua haruslah menjaga tingkah lakunya di depan anak-anaknya, ingat sifat anak kecil itu cendrung meniru. Jadi agar karakter generasi muda ini baik, maka tunjukkan prilaku yang baik dari orang dewasanya.

***

Memahami pola tingkah laku dan memahami bagimana cara anak-anak berkembang sangatlah penting agar kita tahu pendidikan apa yang tepat pada usianya. Saya mencoba beberapa kali memperhatikan  pola tingkah laku dan kecendrungan anak-anak seusia TK dan SD, dan saya mendapatkan kesimpulan bahwa “PENDIDIKAN YANG TEPAT UNTUK MEREKA ADALAH PENDIDIKAN MORAL DAN KREATIFITAS”. Anak-anak itu lebih senang jika mereka diajak peduli terhadap sesamanya atau lingkungannya. Saya pernah melihat betapa bahagianya murid-murid TK ketika mereka diajak untuk peduli terhadap lingkungannya seperti aksi menanam pohon untuk menghadang global warming.

Dan anak-anak itu juga lebih senang terhadap pelajaran yang bersifat aktif, kreatifitas dan perlombaan, dan mereka “Sangat Kurang Tertarik” dengan cara belajar yang monoton, makanya ada istilah sekarang “Belajar sambil Bermain”.

Wallahu ‘Alam bish-shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s